Sayyid
Muhammad bin Alawi al Maliki al Hasani - Makkah
Sayyid Prof. Dr.
Muhammad ibn Sayyid ‘Alawi ibn Sayyid ‘Abbas ibn Sayyid ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki
al-Hasani al-Makki al-Asy’ari asy-Syadzili lahir di Makkah pada tahun 1365 H.
Pendidikan pertamanya adalah Madrasah Al-Falah, Makkah, dimana ayah beliau
Sayyid Alawi bin Abbas al Maliki sebagai guru agama di sekolah tersebut yang
juga merangkap sebagai pengajar di halaqah di Haram Makki.
Beliau
juga belajar kepada ulama-ulama Makkah terkemuka lainnya, seperti Sayyid Amin
Kutbi, Hassan Masshat, Muhammad Nur Sayf, Sa’id Yamani, dan lain-lain. Sayyid
Muhammad memperoleh gelar Ph.D-nya dalam Studi Hadits dengan penghargaan
tertinggi dari Jami’ al-Azhar di Mesir, pada saat baru berusia dua puluh lima
tahun. Beliau kemudian melakukan perjalanan dalam rangka mengejar studi Hadits
ke Afrika Utara, Timur Tengah, Turki, Yaman, dan juga anak benua Indo-Pakistan,
dan memperoleh sertifikasi mengajar (ijazah) dan sanad dari Imam Habib Ahmad
Mashhur al Haddad, Syaikh Hasanayn Makhluf, Ghumari bersaudara dari Marokko,
Syekh Dya’uddin Qadiri di Madinah, Maulana Zakariyya Kandihlawi, dan banyak
lainnya. Sayyid Muhammmad merupakan pendidik Ahlus Sunnah wal Jama’ah, seorang
‘alim kontemporer dalam ilmu hadits, ‘alim mufassir (penafsir)
Qur’an, Fiqh, doktrin (‘aqidah), tasawwuf, dan biografi Nabawi (sirah).
Sayyid
Muhammad al-Makki merupakan seorang ‘aliim yang mewarisi pekerjaan dakwah
ayahanda, membina para santri dari berbagai daerah dan negara di dunia Islam di
Makkah al-Mukarromah. Ayahanda beliau adalah salah satu guru dari ulama-ulama
sepuh di Indonesia, seperti Hadratus Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari, KH. Abdullah
Faqih Langitan, KH. Maimun Zubair dan lain-lain. Dalam meneruskan perjuangan
ayahandanya, Sayyid Muhammad sebelumnya mendapatkan sedikit kesulitan karena
beliau merasa belum siap untuk menjadi pengganti ayahnya. Maka langkah pertama
yang diambil adalah melanjutkan studi dan ta’limnya terlebih dahulu. Beliau
berangkat ke Kairo dan Universitas al-Azhar Assyarif merupakan pilihannya.
Setelah meraih S1, S2 dan S3 dalam fak Hadith dan Ushuluddin beliau kembali ke
Makkah untuk melanjutkan perjalanan yang telah di tempuh sang ayah. Disamping
mengajar di Masjidil Haram di halaqah, beliau diangkat sebagai dosen di
Universitas King Abdul Aziz- Jeddah dan Univesitas Ummul Qura Makkah bagian
ilmu Hadith dan Usuluddin. Cukup lama beliau menjalankan tugasnya sebagai dosen
di dua Universitas tsb, sampai beliau memutuskan mengundurkan diri dan memilih
mengajar di Masjidil Haram sambil membuka majlis ta’lim dan pondok di rumah
beliau. Adapun pelajaran yang di berikan baik di masjidil haram atau di rumah
tidak bertumpu pada ilmu tertentu seperti di Universitas, akan tetapi semua
pelajaran yang diberikannya bisa di terima semua masyarakat baik masyarakat
awam atau terpelajar, semua bisa menerima dan mencicipi apa yang diberikan
Sayyid Muhammad Maka dari itu beliau selalu menitik beratkan untuk membuat
rumah yang lebih besar dan bisa menampung lebih dari 500 murid per hari yang
biasa dilakukan selepas sholat Maghrib sampai Isya di rumahnya di Hay al
Rashifah. Begitu pula setiap bulan Ramadan dan hari raya, beliau selalu
menerima semua tamu dan muridnya dengan tangan terbuka tanpa memilih golongan
atau derajat. Semua di sisinya sama tamu-tamu dan murid murid, semua mendapat
penghargaan yang sama dan semua mencicipi ilmu bersama.
Dari
rumah beliau telah keluar ulama-ulama yang membawa panji Rasulallah ke suluruh
pelosok permukaan bumi. Di Indonesia, India, Pakistan, Afrika, Eropa, Amerika,
apa lagi di Asia yang merupakan sebagai orbit dakwah Sayyid Muhammad al Maliki,
ribuan murid murid beliau yang bukan hanya menjadi kyai dan ulama akan tetapi
tidak sedikit yang masuk ke dalam pemerintahan. Di samping pengajian dan taklim
yang rutin di lakukan setiap hari, beliau juga mengasuh pondok yang jumlah
santrinya tidak sedikit, semua berdatangan dari penjuru dunia, belajar, makan,
dan minum tanpa di pungut biaya sepeser pun bahkan beliau memberikan beasiswa
kepada para santri sebagai uang saku. Setelah beberapa tahun belajar, para
santri dipulangkan ke negara-negara mereka untuk menyiarkan agama.
Sayyid
Muhammad al Maliki dikenal sebagai guru, pengajar dan pendidik yang tidak
beraliran keras, tidak berlebih- lebihan, dan selalu menerima hiwar dengan
hikmah dan mauidhah hasanah. Beliau ingin mengangkat derajat dan martabat
Muslimin menjadi manusia yang berperilaku, baik dalam muamalatnya kepada Allah
dan kepada sesama, terhormat dalam perbuatan, tindakan serta pikiran dan
perasaannya. Beliau adalah orang cerdas dan terpelajar, berani dan jujur serta
adil dan cinta kasih terhadap sesama. Itulah ajaran utama Sayyid Muhammad bin
Alawi Al Maliki. Beliau selalu menerima dan menghargai pendapat orang dan menghormati
orang yang tidak sealiran dengannya. Semua yang berlawanan diterima dengan
sabar dan usaha menjawab dengan hikmah dan memecahkan sesuatu masalah dengan
kenyataan dan dalil-dalil yang benar bukan dengan emosi dan pertikaian yang
tidak bermutu dan berkesudahan.
Sayyid
Muhammad tahu persis bahwa kelemahan Islam terdapat pada pertikaian para
ulamanya dan ini memang yang diinginkan musuh Islam. Sampai-sampai beliau
menerima dengan rela digeser dari kedudukannya baik di Universitas dan ta’lim
beliau di masjidil Haram. Semua ini beliau terima dengan kesabaran dan
keikhlasan bahkan beliau selalu menghormati orang orang yang tidak sependapat
dan sealiran dengannya, semasih mereka memiliki pandangan khilaf yang bersumber
dari al-Qur’an dan Sunah. Adapun ulama yang telah mendapat gemblengan dari
Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki, mereka sangat pandai, di samping menguasai
bahasa Arab, mereka juga menguasai ilmu-ilmu agama yang cukup untuk dijadikan
pegangan dan referensi di negara-negara mereka. Pada akhir hayat beliau saat
terjadi insiden teroris di Saudi Arabia, beliau mendapatkan undangan dari ketua
umum Masjidil Haram Syekh Sholeh bin Abdurahman Alhushen untuk mengikuti “Hiwar
Fikri” di Makkah yang diadakan pada tg 5 sd 9 DhulQo’idah 1424 H dengan judul
“Al-qhuluw wal I’tidal Ruya Manhajiyyah Syamilah”, di sana beliau mendapat
kehormatan untuk mengeluarkan pendapatnya tentang thatarruf atau yang lebih
poluler disebut ajaran yang beraliran fundamentalists atau extremist (keras).
Dan dari sana beliau telah meluncurkan sebuah buku yang sangat popular
dikalangan masyarakat Saudi yang berjudul “Alqhuluw Dairah Fil Irhab Wa Ifsad
Almujtama”.
Dari
situ, mulailah pandangan dan pemikiran beliau tentang da’wah selalu mendapat
sambutan dan penghargaan masyarakat luas. Pada tg 11/11/1424 H, beliau mendapat
kesempatan untuk memberikan ceramah di hadapan wakil raja Amir Abdullah bin
Abdul Aziz yang isinya beliau selalu menggaris-bawahi akan usaha menyatukan
suara ulama dan menjalin persatuan dan kesatuan da’wah. Di samping tugas beliau
sebagai da’i, pengajar, pembibing, dosen, penceramah dan segala bentuk kegiatan
yang bermanfaat bagi agama, beliau juga seorang pujangga besar dan penulis
unggul. Tidak kurang dari 100 buku yang telah dikarangnya, semuanya beredar di
seluruh dunia. Tidak sedikit dari kitab-kitab beliau yang beredar telah
diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, Prancis, Urdu, Indonesia dll. Mafahim
Yujibu an-Tusahhah (Konsep-konsep yang perlu diluruskan) adalah salah satu
kitab karya Sayyid Muhammad, red. bersinar layaknya suatu kemilau mutiara.
Inilah
seorang manusia yang menantang rekan-rekan senegaranya, kaum Salafi-Wahhabi,
dan membuktikan kesalahan doktrin-doktrin mereka dengan menggunakan
sumber-sumber dalil mereka. Untuk keberanian intelektualnya ini, Sayyid
Muhammad dikucilkan oleh ‘rumah Najd’ dan dituduh sebagai “seorang yang sesat”.
Beliau pun dicekal dari kedudukannya sebagai pengajar di Haram (yaitu di
Masjidil Haram, Makkah, red.). Kitab-kitab karya beliau dilarang, bahkan
kedudukan beliau sebagai professor di Umm ul-Qura pun dicabut. Beliau ditangkap
dan passport-nya ditahan. Namun, dalam menghadapi semua hal tersebut, Sayyid
Muhammad sama sekali tidak menunjukkan kepahitan dan keluh kesah. Beliau tak
pernah menggunakan akal dan intelektualitasnya dalam amarah, melainkan
menyalurkannya untuk memperkuat orang lain dengan ilmu (pengetahuan) dan
tasawwuf.
Saat
kaum Salafi-Wahhabi mendiskreditkan beliau, beliau pun menulis lebih banyak
buku dan mendirikan Zawiyyah beliau sendiri yang menjadi “United Nations”
(Perserikatan Bangsa- Bangsa) dari para ‘Ulama. Akhirnya, protes dari dunia
Muslim memaksa kaum Salafi-Wahhabi untuk menghentikan usaha mereka mem-peti
es-kan sang ‘alim kontemporer’ yang paling terkenal dalam mazhab Maliki ini.
Beberapa di antara mereka bahkan mulai mendukung beliau. Kedengkian mereka
sebenarnya didorong oleh fakta bahwa Sayyid Muhammad al-Maliki jauh lebih
unggul untuk dijadikan tandingan mereka. Dengan sendirian saja, beliau
mengambil Islam Sunni dari klaim tangan-tangan Neo-Khawarij Salafi-Wahhabi dan
menempatkannya kembali ke tangan mayoritas ummat ini. Melalui berbagai
karya-karyanya yang menonjol, beliau menyuntikkan kepercayaan diri yang amat
dibutuhkan dalam perdebatan saat kaum jahil yang mengandalkan ijtihad pribadi
mulai meracuni pemikiran umat Islam.
Beliau
wafat hari jumat tgl 15 ramadhan 1425 H ( 2004 M) dan dimakamkan di pemakaman
Al-Ma’la disamping makam istri Rasulullah Saw. Khadijah binti Khuailid Ra.
dengan meninggalkan 6 putra, Ahmad, Abdullah, Alawi, Ali, al- Hasan dan
al-Husen dan beberapa putri-putri yang tidak bisa disebut satu persatu disini.
Dan yang menyaksikan pemakaman beliau hampir seluruh umat muslimin yang berada
di Makkah pada saat itu termasuk para pejabat, ulama, para santri yang datang
dari seluruh pelosok negeri, baik dari luar Makkah atau dari luar negeri.
Semuanya menyaksikan hari terakhir beliau sebelum disemayamkan, setelah
disholatkan di Masjidil Haram ba’da sholat isya yang dihadiri oleh tidak kurang
dari sejuta manusia. Begitu pula selama tiga hari tiga malam rumahnya terbuka
bagi ribuan orang yang ingin mengucapkan belasungkawa dan melakukan `aza’. Dan
di hari terakhir `Aza, wakil Raja Saudi, Amir Abdullah bin Abdul Aziz dan Amir
Sultan datang ke rumah beliau untuk memberikan sambutan belasungkawa dan
mengucapkan selamat tinggal kepada pemimpin agama yang tidak bisa dilupakan
umat.
Ketika
jenazah Sayyid Muhammad Al Maliki hendak dishalatkan di Masjidil Haram, ribuan
warga kota Mekkah bergantian menggusung jenazahnya. Dikabarkan toko-toko di
sekitar Masjidil Haram yang dilewati jenazah mematikan lampu sebagai tanda
dukacita. Kebesaran keluarga Al Maliki, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di
negara-negara Afrika, Mesir, dan Asia Tenggara. Jadi tidak heran dengan
meninggalnya Sayyid Muhammad Al Maliki umat Islam telah kehilangan satu ulama
yang telah mengoreskan tinta sejarah perjuangan menegakkan kalimat tauhid di
muka bumi ini yang menjadi tauladan buat kita semua.
sumber
: http://purnamarjuna.blogspot.com
HABIB
SHOLEH BIN MUHSIN AL HAMID ( TANGGUL JEMBER JAWA TIMUR)
Beliau adalah Seorang
wali qhutub yang lebih dikenal Dengan nama habib Sholeh Tanggul, Ulama
Karismatik yang berasal dari Hadro maut pertama kali melakukan da’wahnya ke
Indonesia sekitar tahun 1921 M dan menetap di daerah tanggul Jember Jawa timur.
Habib Sholeh lahir tahun 1313 H dikota Korbah , ayahnya bernama Muhsin bin
Ahmad juga seorang tokoh Ulama dan Wali yang sangat di cintai masyarakat ,
Ibunya bernama Aisyah ba umar.
Sejak Kecil Habib sholeh gemar sekali menuntut ilmu , beliau banyak belajar
dari ayahandanya yang memang seorang Ahli ilmu dan Tashauf , berkat gembelengan
dan didikan dari ayahnya Habib sholeh memilki kegelisahan Batiniyah yang rindu
akan Alloh Swt dan Rindunya Kepada Rosululloh SAW, akhirnya beliau melakukan
Uzlah ( Mengasingkan diri) selama hampir 7 tahun sepanjang waktu selama
beruzlah Habib Sholeh memperbanyak Baca al quran , Dzikir dan membaca Sholawat
. Hingga Akhirnya Habib Sholeh Di datangi Oleh tokoh Ulama yang juga wali
Quthub Habib Abu bakar bin Muhammad assegaf dari Gresik, Habib Sholeh Diberi
sorban hijau yang katanya Sorban tersebut dari Rosululloh SAW dan ini menurut
Habib Abu bakar assegaf adalah suatu Isyarat bahwa Gelar wali Qhutub yang
selama ini di sandang oleh habib Abubakar Assegaf akan diserahkan Kepada Habib
Sholeh Bin Muhsin , Namun Habib sholeh Tanggul merasa bahwa dirinya merasa
tidak pantas mendapat gelar Kehormatan tersebut. Sepanjang Hari habib Sholeh
tanggul Menangis memohon kepada Alloh Swt agar mendapat Petunjuknya.
Dan suatu ketika habib Abyubakar Bin Muhammad assegaf gresik mengundang Habib
sholeh tanggul untuk berkunjung kerumahnya , setelah tiba dirumah habib
Abubakar Bin Muhammad assegaf menyuruh Habib Sholeh tanggul untuk melakukan
Mandi disebuah kolam Milik Habib Abu bakar Assegaf , setelah mandi habib Sholeh
tanggul di beri Ijazah dan dipakaikan Sorban kepadanya. Dan hal tersebut
merupakan Isyarat Bahwa habib Abubakar Bin Muhammad Assegaf telah memberikan
Amanat kepada Habib sholeh tanggul untuk melanjutkan Da’wak kepada masyrakat.
Habib Sholeh mulai melakukan berbagai aktifitas dakwahnya kepada Masyarakat,
dengan menggelar berbagai Pengajian-pengajian . Kemahiran beliau dalam
penyampaian dakwahnya kepada masyarakat membuat beliau sangat dicintai , dan
Habib sholeh Mulai dikenal dikalangan Ulama dan habaib karena derajat keimuan
serta kewaliaan yang beliau miliki. Habib sholeh tanggul sering mendapat
Kunjungan dari berbagai tokoh ulama serta habaib baik sekedar untuk bersilahturahim
ataupun untuk membahas berbagai masalah keaganmaan, bahkan para ulama serta
habaib di tanah air selalu minta didoakan karena menurut mereka doa Habib
sholeh tanggul selalu di kabulkan oleh alloh SWt, Pernah suatu ketika habib
Sholeh tanggul berpergian dengan habib Ali Al habsy Kwitang dan Habib ali
bungur dalam perjalanan Beliau melihat kerumunan Warga yang sedang melaksanakan
sholat Istisqo’ ( Sholat minta hujan ) karena musim kemarau yang berkepanjangan
, lalu Habib sholeh Memohon kepada alloh Untuk menurunkan Hujan maka seketika
itupula hujan turun. Beliau berpesan kepada jama’ah Majlis ta’limnya apabila
do’a-doa kita ingin dikabulkan oleh Alloh Swt jangan sekali-kali kita membuat
alloh murka dengan melakukan Maksiyat, Muliakan orang tua mu dan beristiqomalah
dalam melaksanakan sholat subuh berjama’ah.
Habib Sholeh berpulang kerahmatulloh pada tanggal 7 sawal 1396 h atau sekitar
tahun 1976, hingga sekarang Karomah beliau yang tampak setelah beliau meninggal
adalah bahwa maqom beliau tidak pernah sepi dari para jamaah yang datang dari
berbagai daerah untuk berziarah apalagi waktu perayaan haul beliau yang
diadakan setiap hari kesepuluh dibulan syawal ribuan orang akan tumpah ruah
kejalan untuk memperingati Khaul beliau.;
Habib
Salim bin Jindan - Jakarta, Ulama dan Pejuang Kemerdekaan
Ulama habaib Jakarta
ini menguasai beberapa ilmu agama. Banyak ulama dan habaib
berguru kepadanya. Koleksi kitabnya berjumlah ratusan. Ia juga pejuang
kemerdekaan. Pada periode 1940-1960, di Jakarta ada tiga habaib yang seiring
sejalan dalam berdakwah. Mereka itu: Habib Ali bin Abdurahman Alhabsyi
(Kwitang), Ali bin Husein Alatas (Bungur) dan Habib Salim bin Jindan (Otista).
Hampir semua habaib dan ulama di Jakarta berguru kepada mereka, terutama kepada
Habib Salim bin Jindan - yang memiliki koleksi sekitar 15.000 kitab, termasuk
kitab yang langka. Sementara Habib Salim sendiri menulis sekitar 100 kitab,
antara lain tentang hadits dan tarikh, termasuk yang belum dicetak.
Lahir di Surabaya pada 18 Rajab 1324 (7 September 1906) dan wafat di Jakarta
pada 16 Rabiulawal 1389 (1 Juni 1969), nama lengkapnya Habib Salim bin Ahmad
bin Husain bin Saleh bin Abdullah bin Umar bin Abdullah bin Jindan. Seperti
lazimnya para ulama, sejak kecil ia juga mendapat pendidikan agama dari
ayahandanya.
Menginjak usia remaja ia memperdalam agama kepada Habib Abdullah bin Muhsin
Alatas (Habib Empang, Bogor), Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar (Bondowoso),
Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi (Surabaya), Habib Abubakar bin Muhammad
Assegaf (Gresik), K.H. Cholil bin Abdul Muthalib (Kiai Cholil Bangkalan), dan
Habib Alwi bin Abdullah Syahab di Tarim, Hadramaut.
Selain itu ia juga berguru kepada Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih, seorang
ahli hadits dan fuqaha, yang sat itu juga memimpin Madrasah Al-Khairiyah di
Surabaya. Bukan hanya itu, ia juga rajin menghadiri beberapa majelis taklim
yang digelar oleh para ulama besar. Kalau dihitung, sudah ratusan ulama besar
yang ia kunjungi.
Dari perjalanan taklimnya itu, akhirnya Habib Salim mampu menguasai berbagai
ilmu agama, terutama hadits, tarikh dan nasab. Ia juga hafal sejumlah kitab
hadits. Berkat penguasaannya terhadap ilmu hadits ia mendapat gelar sebagai
muhaddist, dan karena menguasai ilmu sanad maka ia digelari sebagai musnid.
Mengenai guru-gurunya itu, Habib Salim pernah berkata, "Aku telah
berkumpul dan
hadir di majelis mereka. Dan sesungguhnya majelis mereka menyerupai majelis
para sahabat Rasulullah SAW dimana terdapat kekhusyukan, ketenangan dan
kharisma mereka." Adapun guru yang paling berkesan di hatinya ialah Habib
Alwi
bin Muhammad Alhaddad dan Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf. Tentang mereka,
Habib Salim pernah berkata, "Cukuplah bagi kami mereka itu sebagai panutan
dan
suri tauladan."
Pada 1940 ia hijrah ke Jakarta. Di sini selain membuka majelis taklim ia juga
berdakwah ke berbagai daerah. Di masa perjuangan menjelang kemerdekaan, Habib
Salim ikut serta membakar semangat para pejuang untuk berjihad melawan penjajah
Belanda. Itu sebabnya ia pernah ditangkap, baik di masa penjajahan Jepang
maupun ketika Belanda ingin kembali menjajah Indonesia seperti pada Aksi
Polisionil I pada 1947 dan 1948.
Dalam tahanan penjajah, ia sering disiksa: dipukul, ditendang, disetrum. Namun,
ia tetap tabah, pantang menyerah. Niatnya bukan hanya demi amar makruf nahi
munkar, menentang kebatilan dan kemungkaran, tetapi juga demi kemerdekaan tanah
airnya. Sebab, hubbul wathan minal iman - cinta tanah air adalah sebagian dari
pada iman.
Kembali Berdakwah
Setelah Indonesia benar-benar aman, Habib Salim sama sekali tidak mempedulikan
apakah perjuangannya demi kemerdekaan tanah air itu dihargai atau tidak. Ia
ikhlas berjuang, kemudian kembali membuka majelis taklim yang diberi nama
Qashar Al-Wafiddin. Ia juga kembalin berdakwah dan mengajar, baik di Jakarta,
di beberapa daerah maupun di luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, Kamboja.
Ketika berdakwah di daerah-daerah itulah ia mengumpulkan data-data sejarah
Islam. Dengan cermat dan tekun ia kumpulkan sejarah perkembangan Islam di
Ternate, Maluku, Ambon, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Timor Timur, Pulau
Roti, Sumatera, Pulau Jawa. Ia juga mendirikan sebuah perpustakaan bernama
Al-Fakhriah.
Di masa itu Habib Salim juga dikenal sebagai ulama yang ahli dalam menjawab
berbagai persoalan - yang kadang-kadang menjebak. Misalnya, suatu hari, ketika
ia ditanya oleh seorang pendeta, "Habib, yang lebih mulia itu yang masih
hidup
atau yang sudah mati?" Maka jawab Habib Salim, "Semua orang akan
menjawab, yang
hidup lebih mulia dari yang mati. Sebab yang mati sudah jadi bangkai."
Lalu
kata pendeta itu, "Kalau begitu Isa bin Maryam lebih mulia dari Muhammad
bin
Abdullah. Sebab, Muhammad sudah meninggal, sementara Isa -- menurut keyakinan
Habib -- belum mati, masih hidup."
"Kalau begitu berarti ibu saya lebih mulia dari Maryam. Sebab, Maryam
sudah
meninggal, sedang ibu saya masih hidup. Itu, dia ada di belakang," jawab
Habib
Salim enteng. Mendengar jawaban diplomatis itu, si pendeta terbungkam seribu
bahasa, lalu pamit pulang. Ketika itu banyak kaum Nasrani yang akhirnya memeluk
Islam setelah bertukar pikiran dengan Habib Salim.
Habib Salim memang ahli berdebat dan orator ulung. Pendiriannya pun teguh.
Sejak lama, jauh-jauh hari, ia sudah memperingatkan bahaya kerusakan moral
akibat pornografi dan kemaksiatan. "Para wanita mestinya jangan membuka
aurat
mereka, karena hal ini merupakan penyakit yang disebut tabarruj, atau
memamerkan aurat, yang bisa menyebar ke seluruh rumah kaum muslimin," kata
Habib Salim kala itu.
Ulama besar ini wafat di Jakarta pada 16 Rabiulawal 1389 (1 Juni 1969). Ketika
itu ratusan ribu kaum muslimin dari berbagai pelosok datang bertakziah ke
rumahnya di Jalan Otto Iskandar Dinata, Jakarta Timur. Iring-iringan para
pelayat begitu panjang sampai ke Condet. Jasadnya dimakamkan di kompleks Masjid
Alhawi, Condet, Jakarta Timur.
Almarhum meninggalkan dua putera, Habib Shalahudin dan Habib Novel yang juga
sudah menyusul ayahandanya. Namun, dakwah mereka tetap diteruskan oleh anak
keturunan mereka. Mereka, misalnya, membuka majelis taklim dan menggelar maulid
(termasuk haul Habib Salim) di rumah peninggalan Habib Salim di Jalan Otto
Iskandar Dinata.
Belakangan, nama perpustakaan Habib Salim, yaitu Al-Fachriyyah, diresmikan
sebagai nama pondok pesantren yang didirikan oleh Habib Novel bin Salim di
Ciledug, Tangerang. Kini pesantren tersebut diasuh oleh Habib Jindan bin Novel
bin Salim dan Habib Ahmad bin Novel bin Salim - dua putra almarhum Habib Novel.
"Sekarang ini sulit mendapatkan seorang ulama seperti jid (kakek) kami.
Meski
begitu, kami tetap mewarisi semangatnya dalam berdakwah di daerah-daerah yang
sulit dijangkau," kata Habib Ahmad, cucu Habib Salim bin Jindan.
Ada sebuah nasihat almarhum Habib Salim bin Jindan yang sampai sekarang tetap
diingat oleh keturunan dan para jemaahnya, ialah pentingnya menjaga akhlak
keluarga. "Kewajiban kaum muslimin, khususnya orangtua untuk menasihati
keluarga mereka, menjaga dan mendidik mereka, menjauhkan mereka dari
orang-orang yang bisa merusak akhlak. Sebab, orangtua adalah wasilah
(perantara) dalam menuntun anak-anak. Nasihat seorang ayah dan ibu lebih
berpengaruh pada anak-anak dibanding nasehat orang lain."
Disarikan dari Manakib Habib Salim bin Jindan karya Habib Ahmad bin Novel bin
Salim
Habib
Muhammad bin Husein al-Aydrus (Habib Neon): Pewaris Rahasia Imam Ali Zainal Abidin

Al-Habib Muhammad bin
Husein al-Aydrus lahir di kota Tarim Hadramaut. Kewalian dan sir beliau tidak
begitu tampak di kalangan orang awam. Namun di kalangan kaum ‘arifin billah
derajat dan karomah beliau sudah bukan hal yang asing lagi, karena memang
beliau sendiri lebih sering bermuamalah dan berinteraksi dengan mereka.
Sejak kecil habib Muhammad dididik dan diasuh secara langsung oleh ayah beliau
sendiri al-’Arifbillah Habib Husein bin Zainal Abidin al-Aydrus. Setelah
usianya dianggap cukup matang oleh ayahnya, beliau al-Habib Muhammad dengan keyakinan
yang kuat kepada Allah SWT merantau ke Singapura.
أَََلَمْ َتكُنْ أَرْضُ اللهِ وَاسِعَةً فتَََهَاجَرُوْا فِيْهَا
Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu? (Q.S
an-Nisa’:97)
Setelah merantau ke Singapura, beliau pindah ke Palembang, Sumatera Selatan. Di
kota ini beliau menikah dan dikaruniai seorang putri. Dari Palembang, beliau
melanjutkan perantauannya ke Pekalongan, Jawa Tengah, sebuah kota yang menjadi
saksi bisu pertemuan beliau untuk pertama kalinya dengan al-Imam Quthb al-Habib
Abu Bakar bin Muhammad as-Seggaf, Gresik. Di Pekalongan jugalah beliau
seringkali mendampingi Habib Ahmad bin Tholib al-Atthos.
Dari Pekalongan beliau pidah ke Surabaya tempat Habib Musthafa al-Aydrus yang
tidak lain adalah pamannya tinggal. Seorang penyair, al-Hariri pernah
mengatakan:
وَحُبِّ البِلَادَ فَأَيُّهَا أَرْضَاكَ فَاخْتَرْهُ وَطَنْ
Cintailah negeri-negeri mana saja yang menyenangkan bagimu dan jadikanlah
(negeri itu) tempat tinggalmu
Akhirnya beliau memutuskan untuk tinggal bersama pamannya di Surabaya, yang
waktu itu terkenal di kalangan masyarakat Hadramaut sebagai tempat berkumpulnya
para auliaillah. Di antaranya adalah Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdor, Habib
Muhammad bin Idrus al-Habsyi, Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya dan masih
banyak lagi para habaib yang mengharumkan nama kota Surabaya waktu itu. Selama
menetap di Surabaya pun Habib Muhammad al-Aydrus masih suka berziarah, terutama
ke kota Tuban dan Kudus selama 1-2 bulan.
Dikatakan bahwa para sayyid dari keluarga Zainal Abidin (keluarga ayah Habib
Muhammad) adalah para sayyid dari Bani ‘Alawy yang terpilih dan terbaik karena
mereka mewarisi asrar (rahasia-rahasia). Mulai dari ayah, kakek sampai
kakek-kakek buyut beliau tampak jelas bahwa mereka mempunyai maqam di sisi
Allah SWT. Mereka adalah pakar-pakar ilmu tashawuf dan adab yang telah
menyelami ilmu ma’rifatullah, sehingga patut bagi kita untuk menjadikan
beliau-beliau sebagai figur teladan.
Diriwayatkan dari sebuah kitab manaqib keluarga al-Habib Zainal Abidin
mempunyai beberapa karangan yang kandungan isinya mampu memenuhi 10 gudang
kitab-kitab ilmu ma’qul/manqul sekaligus ilmu-ilmu furu’ (cabang) maupun ushul
(inti) yang ditulis berdasarkan dalil-dalil jelas yang hasilnya dapat
dipertanggungjawabkan sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh para pakar dan
ahli (para ashlafuna ash-sholihin).
Habib Muhammad al-Aydrus adalah tipe orang yang pendiam, sedikit makan dan
tidur. Setiap orang yang berziarah kepada beliau pasti merasa nyaman dan senang
karena memandang wajah beliau yang ceria dengan pancaran nur (cahaya). Setiap
waktu beliau gunakan untuk selalu berdzikir dan bersholawat kepada datuk beliau
Rasulullah SAW. Beliau juga gemar memenuhi undangan kaum fakir miskin. Setiap
pembicaraan yang keluar dari mulut beliau selalu bernilai kebenaran-kebenaran
sekalipun pahit akibatnya. Tak seorangpun dari kaum muslimin yang beliau
khianati, apalagi dianiaya.
Setiap hari jam 10 pagi hingga dzuhur beliau selalu menyempatkan untuk
openhouse menjamu para tamu yang datang dari segala penjuru kota, bahkan ada
sebagian dari mancanegara. Sedangkan waktu antara maghrib sampai isya’ beliau
pergunakan untuk menelaah kitab-kitab yang menceritakan perjalanan kaum salaf.
Setiap malam Jum’at beliau mengadakan pembacaan Burdah bersama para jamaahnya.
Beliau al-Habib Muhammad al-Aydrus adalah pewaris karateristik Imam Ali Zainal
Abidin yang haliyah-nya agung dan sangat mulia. Beliau juga memiliki maqam
tinggi yang jarang diwariskan kepada generasi-generasi penerusnya. Dalam hal
ini al-Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad telah menyifati mereka dalam untaian
syairnya:
ثبتوا على قـدم النبى والصحب # والتـابعين لهم فسل وتتبع
ومضو على قصد السبيل الى العلى# قدما على قدم بجد أوزع
_Mereka tetap dalam jejak Nabi dan sahabat-sahabatnya
Juga para tabi’in. Maka tanyakan kepadanya dan ikutilah jejaknya_
_Mereka menelusuri jalan menuju kemulyaan dan ketinggian
Setapak demi setapak (mereka telusuri) dengan kegigihan dan kesungguhan_
Diantara mujahadah beliau r.a, selama 7 tahun berpuasa dan tidak berbuka
kecuali hanya dengan 7 butir kurma. Pernah juga beliau selama 1 tahun tidak
makan kecuali 5 mud saja. Beliau pernah berkata, “Di masa permulaan aku gemar
menelaah kitab-kitab tasawuf. Aku juga senantiasa menguji nafsuku ini dengan
meniru perjuangan mereka (kaum salaf) yang tersurat dalam kitab-kitab itu”.
(Diadaptasi dari naskah karangan Habib Syekh Musawa Surabaya)
Sumber http://pesantren.or.id.29.masterwebnet.com/dalwa.bangil/
cgi-bin/dalwa.cgi/al_bashiroh/profil/02-jun06.single
Habib
Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih, Darul Hadis, Malang
Hafal Ribuan Hadits
Di Kota Bunga, Malang, Jawa Timur, ada seorang auliya’ yang terkenal karena
ketinggian ilmunya. Ia juga hafal ribuan hadits bersama dengan sanad-sanadnya.
Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al-Alawy dilahirkan di kota Tarim,
Hadramaut, pada hari Selasa 15 Safar tahun 1316 H/1896 M. Saat bersamaan
menjelang kelahirannya, salah seorang ulama besar, Habib Syaikhan bin Hasyim
Assegaf, bermimpi bertemu Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir Jailani. Dalam
mimpi itu Syekh Abdul Qadir Jailani menitipkan kitab suci Al-Quranul Karim
kepada Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf agar diberikan kepada Habib Ahmad bin
Muhammad Bilfagih.
Pagi harinya Habib Syaikhan menceritakan mimpinya kepada Habib Ahmad. Habib
Ahmad mendengarkan cerita dari Habib Syaikhan, kemudian berkata,
”Alhamdulillah, tadi malam aku dianugerahi Allah SWT seorang putra. Dan itulah
isyarat takwil mimpimu bertemu Syekh Abdul Qadir Jailani yang menitipkan
Al-Quranul Karim agar disampaikan kepadaku. Oleh karena itu, putraku ini kuberi
nama Abdul Qadir, dengan harapan, Allah SWT memberikan nama maqam dan
kewalian-Nya sebagaimana Syekh Abdul Qadir Jailani.”
Demikianlah, kemudian Habib Ahmad memberi nama Abdul Qadir karena mengharap
berkah (tafa’ul) agar ilmu dan maqam Abdul Qadir seperti Syekh Abdul Qadir
Jaelani.
Sejak kecil, ia sangat rajin dan tekun dalam mencari ilmu. Sebagai murid, ia
dikenal sangat cerdas dan tangkas dalam menerima pelajaran. Pada masa mudanya, ia
dikenal sebagai orang yang mempunyai perhatian besar terhadap ilmu dan menaruh
penghormatan yang tinggi kepada guru-gurunya. Tidaklah dinamakan mengagungkan
ilmu bila tidak memuliakan ahli ilmu, demikian filosofi yang terpatri dalam
kalbu Habib Abdul Qadir.
Pernah suatu ketika di saat menuntut ilmu pada seorang mahaguru, ia ditegur dan
diperingatkan, padahal Habib Abdul Qadir waktu itu pada pihak yang benar.
Setelah memahami dan mengerti bahwa sang murid berada di pihak yang benar, sang
guru minta maaf. Namun, Habib Abdul Qadir berkata, ”Meskipun saya benar,
andaikan Paduka memukul muka hamba dengan tangan Paduka, tak ada rasa tidak
menerima sedikit pun dalam diri hamba ini.” Itulah salah satu contoh
keteladanan yang tinggi bagaimana seorang murid harus bersopan-santun pada
gurunya.
Guru-guru Habib Abdul Qadir, antara lain, Habib Abdullah bin Umar Asy-Syatiry,
Habib Alwy bin Abdurrahman Al-Masyhur, Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf,
Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor, Syekh Segaf bin Hasan Alaydrus, Syekh Imam
Muhammad bin Abdul Qadir Al-Kattany, Syekh Umar bin Harridan Al-Magroby, Habib
Ali bin Zain Al-Hadi, Habib Ahmad bin Hasan Alatas, Habib Ali bin Muhammad
Al-Habsy, Syekh Abubakar bin Ahmad Al-Khatib, Syekh Abdurrahman Bahurmuz.
Dalam usia yang masih anak-anak, ia telah hafal Al-Quran. Tahun 1331 H/1912 M,
ia telah mendapat ijazah dan berhak memberikan fatwa agama, antara lain di
bidang hukum, dakwah, pendidikan, dan sosial. Ini merupakan anugerah Allah SWT
yang telah diberikan kepada hamba pilihan-Nya.
Maka tidak berlebihan bila salah seorang gurunya, Habib Alwi bin Abdullah bin
Syihab, menyatakan, ”Ilmu fiqih Marga Bilfagih setara dengan ilmu fiqih Imam
Adzro’iy, sedangkan dalam bidang tasawuf serta kesusastraan bagai lautan tak
bertepi.”
Sebelum meninggalkan kota Tarim untuk berdakwah, di tanah kelahirannya ia
sempat mendirikan organisasi pendidikan sosial Jami’yyatul Ukhuwwah wal
Mu’awanah dan Jami’yyah An-Nasr Wal Fudho’il tahun 1919 M.
Sebelum berhijrah ke Indonesia, Habib Abdul Qadir menyempatkan diri beribadah
haji dan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, ia melanjutkan
perjalanan dan singgah di beberapa kota dan negara, seperti Aden, Pakistan,
India, Malaysia, dan Singapura. Di setiap kota yang disinggahi, ia selalu
membina umat, baik secara umum maupun khusus, dalam lembaga pendidikan dan
majelis taklim.
Tiba di Indonesia tepatnya di kota Surabaya tahun 1919 M/1338 H dan langsung
diangkat sebagai direktur Madrasah Al-Khairiyah. Selanjutnya, ia mendirikan
Lembaga Pendidikan Madrasah Ar-Rabithah di kota Solo tahun 1351 H/1931 M.
Selepas bermukim dan menunaikan ibadah haji di Makkah, sekembalinya ke
Indonesia tanggal 12 Februari 1945 ia mendirikan Pondok Pesantren Darul Hadits
Al-Faqihiyyah dan Perguruan Islam Tinggi di kota Malang. Ia pernah diangkat
sebagai dosen mata kuliah tafsir pada IAIN Malang pada 1330 H/1960 M.
Keistimewaan Habib Abdul Qadir adalah, ia ahli ilmu alat, nahwu, sharaf,
manthiq, ilmu kalam, serta ma’any, bayan, dan badi (tiga yang terakhir
merupakan bagian ilmu sastra). Dalam bidang hadits, penguasaannya adalah bidang
riwayat maupun dirayah, dan hafal ribuan hadits. Di samping itu, ia banyak
mendapat hadits Al-Musalsal, yakni riwayat hadits yang tersambung langsung
kepada Rasulullah SAW. Ini diperolehnya melalui saling tukar isnad (saling
menukar periwayatan hadits) dengan Sayid Alwy bin Abas Al-Maliky saat
berkunjung ke Makkah.
Sebagai seorang ulama yang menaruh perhatian besar dalam dunia pendidikan, ia
juga giat mendirikan taklim di beberapa daerah, seperti Lembaga Pendidikan Guru
Agama di Sawangan, Bogor, dan Madrasah Darussalam Tegal, Jawa Tengah.
Banyak santrinya yang di kemudian hari juga meneruskan jejaknya sebagai
muballigh dan ulama, seperti Habib Ahmad Al-Habsy (Ponpes Ar-Riyadh Palembang),
Habib Muhammad Ba’abud (Ponpes Darul Nasyi’in Malang), Habib Syekh bin Ali Al
Jufri (Ponpes Al-Khairat Jakarta Timur), K.H. Alawy Muhammad (Ponpes At-Taroqy
Sampang, Madura). Perlu disebutkan, Prof. Dr. Quraisy Shihab dan Prof. Dr. Alwi
Shihab pun alumnus pesantren ini.
Habib Abdul Qadir wafat pada 21 Jumadil Akhir 1382 H/19 November 1962 dalam
usia 62 tahun. Kala saat-saat terakhirnya, ia berkata kepada putra tunggalnya,
Habib Abdullah, ”… Lihatlah, wahai anakku. Ini kakekmu, Muhammad SAW, datang.
Dan ini ibumu, Sayyidatunal Fatimah, datang….” Ribuan umat berdatangan untuk
meyampaikan penghormatan terakhir kepada sang permata ilmu yang mumpuni itu.
Setelah disemayamkan di Masjid Jami’ Malang, ia dimakamkan di kompleks makam
Kasin, Malang, Jawa Timur.
Habib
Idrus bin Salim al-Jufri, Palu, Sulawesi Tengah
VeiLady Guru tua,
begitu Beliau disapa. Beliau adalah Ulama Hadamaut yang hijrah ke Indonesia
untuk menjaga benteng pertahanan akidah Islam di Sulawesi dari rongrongan
ancaman Missionaris Kristen. Beliaulah pendiri Yayasan Alkhairaat, yang kini
terdiri dari TK, SD, SMP,SMA, SMK,MI, MTS, MA hingga Universitas.
Lembaga-lembaga pendidikan Islam Al-Khairaat berpusat di Kota Palu dan menyebar
ke daerah sekitar, menjadikannya sebagai pintu gerbang dakwah Islam di Kawasan
Timur Nusantara.
Nasab Beliau adalah : Habib Idrus bin Salim bin Alwi bin Segaf bin Alwi bin
Abdullah bin Husein bin Salim bin Idrus bin Muhammad bin Abdullah bin Alwi bin
Abu Bakar Aljufri bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Alwi bin
Muhammad bin Alwi bin Ali bin Muhammad Faqqqih Al-Muqaddam bin Alwi bin
Abdullah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa An-Naqib bin Ali AL-‘Uraidhi bin Jakfar
As-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin
Abi Thalib suami Fatimah Azzahrah binti Rasulullah shallahu alaihi wa sallam.
Habib Idrus lahir di kota Taris, 4 km dari ibu kota Seiwun, Hadramaut, pada 14
sya’ban 1309 H bertepatan dengan 15 Maret 1881 M. Beliau mendapat pendidikan
agama langsung dari ayah dan lingkungan keluarganya. Ayah beliau, Habib Salim
adalah seorang qadhi (hakim) dan mufti (Ulama yang memiliki otoritas mutlak
untuk memberi fatwa) di Kota Taris, Hadramaut. Sedangkan kakek Beliau, Al Habib
Alwi bin Segaf Aljufri, adalah seorang ulama di masa itu. Beliau adalah salah
satu dari lima orang ahli hukum di Hadramaut yang fatwa-fatwanya terkumpul
dalam kitab Bulughul Musytarsyidin, karya Al-Imam Al-habib Abdurrahman
Al-Masyhur.
Tatkala Habib Idrus menginjak usia remedial, ayah Beliau Al-Habib Salim melihat
bahwa kelak anak nya ini bisa menggantikannya. Beliaupun mendidik anaknya
tersebut secara khusus. Habib Salim membuatkan kamar khusus bagi anaknya agar
dapat berkonsentrasi dalam belajar. Habib Idrus kemudian mendalami berbagai
Ilmu seperti tafsir, hadits, tasawuf, fiqih, Tauhid, Mantiq, ma’ani, bayan,
badi’, nahwu, sharaf, falaq, tarikh dan sastra. Selain pada ayahnya, Habib
Idrus juga belajar kepada Para Ulama dan Auliya’ di Hadramaut, diantaranya
adalah : Al-Habib Muhsin bin Alwi Assegaf, Al-Habib Abdurrahman bin Alwi bin
Umar Assegaf, Al-Habib Muhammad bin Ibrahim bilfaqih, Al-Habib Abdullah bin
Husein bin Sholeh Al-Bahar, Al-Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi. Dan Al-Habib
Abdullah bin Umar As-Syathiri di Rubath Tarim.
Kemudian pada tahun 1327 H. atau sekitar tahun 1909 M bersama sang ayah, Habib
Idrus berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji dan berziarah ke
makam datuknya Rasulullah salallahu alaihi wasallam di Madinah. Di sana mereka
menetap selama enam bulan. Selama itu Habib Salim memanfaatkan waktunya untuk
mengajak putranya ini berziarah kepada para ulama dan Auliya’ yang berada di
Hijaz pada masa itu, untuk memminta berkah, do’a serta ijazah dari mereka.
Salah satunya kepada Sayyid Abbas Al-Maliki Al-Hasani di Makkah. Habib Salim
kemudian membawa putranya kembali ke Hadramaut. Setelah itu beliau membawa
Habib Idrus berlayar ke Indonesia tepatnya di kota Manado untuk menemui ibunya
Syarifah Nur Al-Jufri serta Habib Alwi dan Habib Syekh yang merupakan kedua
saudara kandung Habib Idrus yang telah terlebih dahulu hijrah ke Indonesia.
Setelah beberapa waktu di Indonesia, Habib Idrus dan ayahnya kembali ke
Hadramaut. Sebtibanya di Hadramaut, Habib Idrus mengajar di Madrasah yang
dipimpin oleh ayah beliau.
Setelah itu Habib Idrus menikah dengan Syarifah Bahiyah, yang kemudian
dikaruniai tiga orang anak: Habib Salim, Habib Muhammad dan Syarifah Raguan.
Pada bulan Syawwal 1334 H bertepatan dengan 1906 M ayah beliau wafat. Dan pada
tahun itu pula Habib Idrus diangkat oleh Sultan Mansur sebagai Mufti dan Qadhi
di kota Taris, Hadramaut, padahal usianya saat itu baru 25 Tahun.
Semenjak tahun 1839 M Hadramaut berada dalam penjajahan Inggris. Pada masa
penjajahan Inggris itulah Habib Idrus bersama seorang sahabatnya, Habib
Abdurrahman bin Ubaidillah (keduanya dikenal sebgai ulama yang moderat)
bermaksud ke Mesir untuk mempublikasikan kekjaman Inggris dan pelanggaran Hak
Asasi Manusia yang dilakukan oleh Inggris di Hadramaut. Setelah sesuatunya
dipersiapkan dengan matang dan rapi, keduanya berangkat melalui Pelabuhan Aden.
Namun di Pelabuhan Laut Merah itu rencana mereka diketahui oleh pasukan
Inggris. Keduanya ditangkap, dokumennya disita dan dimusnahkan. Setelah ditanah
beberapa waktu kemudian mereka dibebaskan dengan syarat, mereka tidak
diperbolehkan bepergian ke negeri Arab manapun. Setelah kejadian itu Habib
Abdurrahman memilih tinggal di Hadramaut, sedangkan Habib Idrus memilih hijrah
ke Indonesia.
Pada tahun 1925 M Habib Idrus kembali untuk kedua kalinya ke Indonesia. Pada
mulanya beliau tinggal di Pekalongan, Jawa Tengah. Di sana beliau menika dengan
Syarifah Aminah Al-Jufri. Dari pernikahan tersebut beliau dikaruniai dua anak
perempuan, Syarifah Lulu’ dan Syarifah Nikmah. Syarifah Lulu’ kemudian menikah
dengan Sayyid Segaf bin Syekh Al-Jufri, yang salah seorang anaknya adalah
Dr.Salim Segaf Al-Jufri, Duta besar Indonesia untuk Arab Saudi periode
sekarang.
Pada tahun 1926 M beliau pindah ke kota Jombang, disana beliau mengajar dan
berdagang. Namun di penghujung tahun 1928 M karena seringkali mengalami
kerugian dalam berdagang, Habib Idrus berhenti Berdagang dan memulai mengajar.
Di tahun itu pula beliau pindah ke kota Solo. Pada tanggal 27 Desember 1928
bersama beberapa Habaib beliau mendirikan Madrasah Rabithah Alawiyah di kota
Solo. Namun, pada akhir tahun 1929 M Habib Idrus meninggalkan kota Solo dan
hijrah ke Sulawesi. Beliau kemudian berlayar menuju Manado. Ketika kapalnya
singgah di Donggala, Habib Idrus menggunakan kesempatan itu untuk
berkonsolidasi dengan komunitas Arab yang dipimpin Syekh Nasar bin Khams
Al-Amri, di situ beliau mengutarakan tentang rencananya untuk mendirikan
madrasah di kota Palu.
Setibanya di Manado, Habib Idrus mendapatkan telegram tentang hasil musyawarah
masyarakat arab yang ada di Kota Palu mengenai pendirian Madrasah. Pada
akhirnya disepakati bersama bahwa sarana pendidikan berupa gedung akan
disiapkan oleh masyarakat arab Palu, sedangkan gaji guru, Habib Idrus yang akan
mengusahakannya. Pada awal 1930 M Habib Idrus menuju kota Palu. Dan pada
tanggal 30 Juni 1930 M setelah mengurus prizinan pendirian dan surat-surat
lainnya ke pemerintah Hindia Belanda, maka, diresmikanlah Madrasah Al-Khairaat
di Kota Palu.
Dalam perkembangannya, pengelolaan Madrasah sepenuhnya ditangani oleh Habib
Idrus. Para murid yang belajar di sana tidak dipungut biaya sama sekali. Hal
ini karena Habib Idrus mengadaptasi sistem pendidikan arab yang pada umumnya
tidak memungut biaya kepada para muridnya. Sehingga para murid lebih fokus
dalam belajar. Habib Idrus membrikan gaji kepada para guru dan staf sekolah
dari hasilnya berdagang.
Habib Idrus mengajar para santrinya dengan penuh dedikasi dan profesionalitas
yang tinggi. Keikhlasan dan keuletan beliau telah membuahkan hasil. Perguruan
Al-Khairaat waktu itu telah menghasilkan guru-guru Islam yang handal yang
kemudian disebarkan ke seluruh pelosok Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Maluku,
dan Irian Jaya. Keberadaan perguruan Al-Khairaat dan para santrinya telah
berhasil membentengi kawasan Timur Indonesia dari para penginjil, yang waktu
itu pada masa Hindia Belanda ada tiga organisasi yang bertugas mengkristenkan
suku-suku terasing di Sulawesi Tengah. Mereka adalah Indische Kerk (IK)
berpusat di Luwu, Nederlands Zending Genootschap (NZG) berpusat di Tentena, dan
Leger Dois Hest (LDH) berpusat di Kalawara.
Pada tanggal 11 Januari 1942 M Jepang menduduki Sulawesi dan menjadikan kota
Manado sebagai pusat pangkalan di Kawasan Timur Indonesia. Tidak berselang lama
stelah itu, Jepang memerintahkan penutupan perguruan Al-Khairaat. Selama tiga
setengah tahun kependudukan Jepang, Habib Idrus tidak menyerah sedikitpun untuk
mengajar para muridnya. Proses belajar mengajar tetap berlangsung meskipun
secara sembunyi-sembunyi. Lokasi pembelajarandialihkan ke desa Bayoge, yang
berjarak satu setengah kilometer dari lokasi perguruan Al-Khairaat.
Pengajarannya dilaksanakan pada malam hari dan hanya menggunakan penerangan
seadanya, para muridnya datang satu persatu secara sembunyi- sembunyi. Tepat
saat kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 Habib Idrus
kembali membuka perguruan Al-Khairaat secara resmi. Beliau berjuang kembali
untuk mengembangkan dakwah dan pendidikan Islam. Hingga selama kurun waktu 26
tahun (1930-1956) lembaga yang telah dirintisnya ini telah menjangkau seluruh
kawasan Indonesia Timur.
Perguruan Alkhairaat kemudian mengembangkan sayapnya dengan membuka perguruan
tinggi pada tahun 1964 M dengan nama Universitas Islam Al-Khairaat dengan tiga
fakultas di dalamnya, yaitu: Fakultas Sastra, Fakultas Tarbiyah, dan Fakultas
Syariah. Dan Habib Idrus sebagai Rektor pertamanya. Ketika terjadi peristiwa
pemberontakan G30S PKI pada tahun 1965, perguruan tinggi Al-Khairaat
dinonaktifkan untuk sementara. Para Mahasiswanya diberikan tugas untuk
berdakwah di daerah-daerah terpencil kawasan Sulawesi. Hal ini sebagai upaya
untuk membendung paham komunis sekaligus melebarkan dakwah Islam. Setelah
keadaan kondusif, pada tahun 1969 perguruan Tinggi Al-Khairaat dibuka kembali.
Masih dalam suasana Idul Fitri, sakit parah yang telah lama diderita Habib
Idrus kembali kambuh. Bertambah hari sakitnya semakin berat. Maka, guru, Ulama
dan Sastrawan itu wafat, pada hari senin 12 Syawwal 1389 H betepatan dengan 22
Desember 1969 M. sebelum menjelang detik-detik kewafatannya, Habib Idrus sudah
mewasiatkan tentang siapa saja yang memandikan jenazah, imam shalat jenazah,
tempat pelaksanaan shalat jenazah, siapa yang menerima jenazah di Liang lahat,
muadzin di liang lahad, sampai yang membaca talqin di kubur.
Habib Idrus tidak meninggalkan karangan kitab, namun karya besarnya adalah
Al-Khairaat dan murid-muridnya yang telah memberikan pengajaran serta
pencerahan agama kepada umat. Mereka para murid-murid Al-Khairaat meneybar di
seluruh kawasna Indonesia untuk meneruskan perjuangan sang Pendidik yang tak
kenal putus asa ini. Salah satu murid belia yang melanjutkan dakwahnya adalah
Ustad Abdullah Awadh Abdun, yang hijarh dari kota Palu ke Kota Malang untuk
berdakwah dan mendidik para muridnya dengan mendirikan pesantren Daarut Tauhid
di Kota Malang. Ketika wafat, Habib Idrus telah mewariskan 25 cabang Alkhairaat
dan ratusan sekolah, serta beberapa madrasah yang beliau dirikan kala hidupnya.
Kini perguruan Besar Alkahiraat danYayasan Al-khairaat, dibentuk pula Wanita
Islam Al-Khairaat dan Himpunan Pemuda Al-Khairaat.
Al-Habib
Ali bin Husein Al-Attas (Bungur)
Al-Habib Ali bin
Husein Al-Attas, beliau lebih dikenal dengan sebutan Habib Ali Bungur. Beliau
merupakan rantai jaringan Ulama Betawi sampai sekarang ini. Beliau memiliki
jasa yang sangat besar dalam menorehkan jejak langkah dakwah dikalangan
masyarakat Betawi. Beliau menjadi rujukan umat di zamannya, Al-Habib Salim bin
Jindan mengatakan bahwa Al-Habib Ali bin Husein Al-Attas dan Al-Habib Ali
Kwitang bagaikan kedua bola matanya, dikarekan keluasan khazanah keilmuan kedua
habib itu.
Silsilah beliau adalah : Al-Habib Ali bin Husein bin Muhammad bin Husein bin
Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husein bin Al-Imam Al-Qutub Al-Habib Umar bin
Abdurrahman Al-Attas bin Agil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman Assegaf
bin Mauladawilah bin Ali bin Alwi Al-Ghuyyur bin Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam
bin Ali bin Muhammmad Sahib Mirbath bin Ali Khala’ Qasam bin Alwi bin Muhammad
bin Alwi bin ‘Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad An-Naqib bin
Ali Al-‘Uraidhi bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad Baqir bin Ali Zaenal Abidin
bin Husein bin Ali bin Ali Thalib suami Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wasalam.
Beliau lahir di Huraidhah, Hadramaut, pada tanggal 1 Muharram 1309 H,
bertepatan dengan 1889 M. semenjak usia 6 tahun beliau belajar berbagai ilmu
keislaman pada para ulama dan auliya yang hidup di Hadramaut saat itu,
sebagaimana jejak langkah generasi pendahulunya, seelah mendalami agama yang
cukup di Hadramaut, pada tahun 1912 M beliau pergi ke tanah suci unuk
menunaikan haji serrta berziarah ke makam datuknya Rasulullah shalallahu
‘alaihi wasalam di Madinah. Disana beliau menetap di Makkah. Hari-hari beliau
dipergunakan untuk menimba ilmu kepada para ulama yang berada di Hijaz. Setelah
4 tahun (tak banyak sejarawan yang menulis bagaimana perjalanan beliau hingga
kemudian tiba di Jakarta) setelah menetap di Jakarta, beliau berguru kepada
para ulama yang berada di tanah air,diantaranya : Al-Habib Abdullah bin Muhsin
Al-Attas (Empang-Bogor), Al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Attas
(Pekalongan) dan Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi (Surabaya), Al-Habib
Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhor (Bondowoso).
Di daerah Cikini beliau tinggal, sebuah kampung yang masyarakatnya hidup
dibawah gais kemiskinan. Beliau tinggall bersama-sama rakyat jelata. Setiap
orang mengenal Habib Ali, pasti akan berkata “hidupnya sederhana,tawadhu’,teguh
memegang prinsip, menolak pengkultusan manusia, berani membela kebenaran, luas
dalam pemikiran, mendalam di bidang ilmu pengetahuan, tidak membeda-bedakan
yang kaya dan yang miskin, mendorong terbentuknya Negara Indonesia yang
bersatu, utuh serta berdaulat, tidak segan-segan menegur para pejabat yang
mendatanginya dan selalu menyampaikan agar jurang antara pemimpin dan rakyat
dihilangkan, rakyat mesti dicintai,”hal inilah yang menyebabkan rakyat
mencintai Al-Habib Ali bin Husein Al-Attas, beliau tidak pernah menadah
tangannya kepada orang-orang kaya harta, sebab beliau memiliki kekayaan hati,
beliau tidak mau menengadahkan tangannyadibawah, kecuali hanya memohon kepada
Rabbul ‘Alamin. Beliau memiliki ketawakalan yang tinggi kepada Allah azza wa
jalla. Beliau selalu mengorbankan semangat anti penjajah dengan membawakan ayat-ayat
Al-Qur’an dan Hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam yang menganjurkan melawan
penjajah. “Penjajah adalah penindas, kafir dan wajib diperangi” begitulah yang
sering beliau ucapkan. Beliau tergolong pejuang yang anti komunis. Pada masa
pemberontakan PKI, beliau selalu mengatakan bahwa “PKI dan komunis akan lenyap
dari bumi Indonesia dan rakyat akan selalu melawan kekuatan atheis. Ini berkah
perjuangan para ulama dan auliya yang jasadnya bertebaran di seluruh
nusantara”.
Semasa hidupnya beliau tidak pernah berhenti dan tak kenal lelah dalam
berdakwah. Salah satu karya terbesar beliau adalah kitab Tajul A’ras fi Manaqib
Al-Qutub Al-Habib Sholeh bin Abdullah Al-Attas, sebuah kitab sejarah para ulama
Hadramaut yang pernah beliau jumpai, dari masa penjajahan Inggris di Hadramaut,
sehingga sekilas perjalanan para ulama Hadramaut di Indonesia. Buku itu juga
berisi tentang beberapa kandungan ilmu tasawuf dan Thariqah Alawiyah. Semasa
hidupnya beliau selalu berjuang membela umat, kesederhanaan serta istiqomahnya
dalam mempraktekkan ajaran islam dalam kehidupan sehari-hari menjadi taulan
yang baik bagi umat. Beliau selalu mengajarkan dan mempraktekkan bahwa islam
mengajak umat dari kegelapan pada cahaya yang terang, membawa dari taraf
kemiskinan kepada taraf keadilan dan kemakmuran dan beliau pun wafat pada
tanggal 16 Februari 1976, jam 06:10 pagi dam usia 88 tahun dan beliau
dimakamkan di pemakaman Al-Hawi, condet Jakarta timur.
(sumber: http://nurulmusthofa.org)
Al
Habib Ja’far bin Syaikhan
Beliau adalah Al Habib
Ja’far bin Syaikhan bin Ali bin Hasyim bin Syeikh bin Muhammad bin Hasyim
Assegaf. Beliau dilahirkan di kota Ghurfah, Hadramaut pada tahun 1298 H.
Sebagaimana kebanyakan para Salaf Bani Alawi, semenjak kecil beliau mendapat
pendidikan langsung dari ayahnya, Al-Habib Syaikhan bin Ali Assegaf. Selain
beliau menuntut ilmu kepada ayahnya, beliau juga mengambil ilmu dari
ulama-ulama besar di Hadramaut, diantaranya :
Al-Habib Idrus bin Umar Alhabsyi (pengarang ‘Iqdul Yawaaqit)
Al-Imam Al-Qutub Al-Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi
Al-Imam Al-Habib Ahmad bin Hasan Alatas
Beberapa tahun kemudian, berangkatlah beliau ke kota Makkah untuk menunaikan
ibadah haji. Semangat beliau untuk menuntut ilmu seakan tak pernah pupus.
Kesempatan beliau berada di kota Makkah tak beliau sia-siakan. Kesempatan itu
beliau pergunakan untuk menuntut ilmu dari para ulama yang ada disana,
diantaranya :
Al-Habib Husin bin Muhammad Alhabsyi
Al-Habib Muhammad bin Salim As-Sirry
Setelah dari kota Makkah Al-Mukarramah, kembalilah beliau ke kota kelahirannya,
Ghurfah. Disana beliau kemudian diangkat menjadi imam masjid jami Ghurfah.
Beliau tinggal di kota tersebut selama 8 tahun. Setelah itu beliau pindah ke
kota Tarim. Disana beliau dipercaya mengajar di Rubath Tarim, sebuah sekolah
yang banyak sekali mencetak ulama-ulama besar. Di kota Tarim beliau tinggal
selama 2 tahun. Kemudian setelah itu, beliau berhijrah ke Indonesia dan tinggal
di kota Bondowoso. Tak lama kemudian, beliau lalu pindah ke kota Pasuruan dan
menetap disana.
Di kota Pasuruan, beliau berdakwah mengibarkan bendera Laa ilaaha illallah.
Beliau membuka majlis taklim dan mengajak masyarakat kepada agama Allah.
Pribadinya yang arif menyebabkan beliau menjadi tempat bermusyawarah, mencari
perlindungan dan pengayom masyarakat. Beliau selalu memberikan nasihat-nasihat
agama dan petunjuk ke arah yang benar. Akhlak beliau mencontoh para
pendahulunya yang penuh dengan sifat tawadhu, sabar, dan ramah. Tidaklah itu
semua kecuali mengambil daripada akhlak-akhlak Rasulullah SAW.
Jika beliau menerima tamunya, beliau sendirilah yang menuangkan minuman buat si
tamu dan beliau menolak jika ada orang lain yang hendak menggantikannya.
Melihat kedalaman ilmu beliau terutama dalam ilmu tafsir dan disertai dengan
keagungan akhlak beliau, Al-Habib Muhammad bin Ahmad Almuhdhor pernah
mengatakan bahwa beliau adalah Al-Qur’an yang berjalan. Begitulah keadaan
beliau yang menjadi figur bagi keluarga dan masyarakatnya.
Kehidupan berputar terus dan beliau selalu mengisinya dengan kebaikan. Sampai
pada suatu saat dimana Allah hendak memanggilnya. Berpulanglah beliau menuju
mardhotillah pada hari Senin, tanggal 14 Jumadil Akhir 1374 H. Jasad beliau
lalu disemayamkan di samping masjid jami Pasuruan.
Begitulah kehidupan beliau sebagai profil manusia yang penuh dengan kebaikan
dan kemuliaan. Meskipun beliau telah berpulang, ruh kehidupan beliau senantiasa
menghidupkan kalbu-kalbu para pengenangnya…mengisi sisi-sisi kehidupan para
pecintanya…
Radhiyallahu anhu wa ardhah…
[Disarikan dari Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya, Muhammad
Syamsu Assegaf dan dari berbagai sumber lainnya]
Sumber: http://yarasulullah.wordpress.com
Habib
Husein bin Muhammad bin Thohir al-Haddad, Jombang
Maula dari Jombang
Ia dikenal sebagai orang yang memperhatikan kepentingan kaum muslimin.
Jombang dikenal sebagai tempat belajar santri-santri dari berbagai pelosok
Indonesia. Di kabupaten ini paling tidak ada dua pondok pesantren yang
dijadikan rujukan oleh pesantren-pesantren salaf di Indonesia, yakni Pondok
Pesantren Darul Ulum (didirikan oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah) dan Pesantren
Tebuireng (didirikan oleh KH.Hasjim Asy’ari.). Tak heran jika kota Jombang,
menjadi rujukan kunjungan tamu-tamu baik ulama’ maupun auliya’ dari berbagai
belahan dunia. Mereka berkunjung untuk bertukar ilmu dan sambil menyebarkan dakwah.
Salah satunya adalah Habib Husain bin Muhammad Al-Haddad. Ia dilahirkan di kota
Geydoon, Hadramaut, Yaman Selatan pada 1302 H. Sedari kecil ia telah dididik
oleh aayah dan kakeknya, dalam lingkungan yang sarat religius, penuh ketakwaan
dan kebajikan.
Kegemarannya menuntut ilmu berlanjut hingga usia remaja, di mana ia selalu
menghadiri majelis-majelis ta’lim ulama-ulama. Tentu saja ulama-ulama yang ia
datangi untuk menimba ilmu, terutama dari ulama-ulama yang suka beramal dan
para wali yang saleh. Termasuk saat menunaikan haji dan berziarah ke makam
datuknya, Nabi Muhammad SAW di Madinah, ia memanfaatkan kesempatan itu untuk
bertemu muka dengan ulama-ulama terkenal dan ia banyak mengambil manfaat dan
keutamaan dari mereka.
Pada tahun 1329 H, ia pergi ke Indonesia untuk bertemu dengan sang ayahanda
tercinta yakni Habib Muhammad bin Thohir Al-Haddad (Tegal). Selain itu, ia juga
berguru dengan banyak ulama yang ada di tanah Jawa ini, diantaranya Habib Alwi
bin Muhammad Al-Haddad (kakak kandungnya), Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi
(Surabaya), Habib Abdullah bin Muhsin Alattas (Bogor), Habib Muhammad bin Ahmad
Al-Muchdor (Bondowoso), Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya, Habib Abdullah bin
Ali Al-Haddad (Bangil), Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf (Gresik) dan Habib
Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas (Pekalongan).
Ia selalu mengikuti majelis taklim dan mendengarkan fatwa-fatwa mereka,
sehingga mereka pun sangat senang melihat, memperhatikan bahkan
mencintainya.Guru yang banyak berperan membentuk karakter dan kepribadian Habib
Husain adalah Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi dan Habib Alwi bin Muhammad
Al-Haddad. Hubungan diantara Husain dan kakaknya memang tergolong sangat
istemewa. Mereka berdua dikenal memiliki hubungan yang sangat erat,
masing-masing dari mereka menampakan sifat tawadhu’ dan saling menghormati.
Puncak dari ahlak dari Habib Husain adalah apabila pulang dari majelis taklim
yang diasuh oleh kakaknya, ia berjalan mundur tidak membelakangi punggungnya.
Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf (Gresik) pernah berkata,”Saya belum pernah
melihat dua bersaudara seperti Alwi dan Husain. Sesungguhnya salah satu dari
mereka memperhatikan lebih banyak urusan saudaranya dari pada dirinya sendiri,
sehingga bila salah satu dari mereka meminta doa dari orang lain, maka
dimintakan untuk saudaranya dan tidak menyebut dirinya sendiri.”
Pernah suatu hari Habib Husain berada di kota Bogor dan bermalam di rumah Habib
Alwi. Saat akan tidur, ia memilih tidur di lantai bawah dan menolak tidur di
atas, takut kalau-kalau kakaknya bangun dan menunaikan shalat tahajjud, di mana
ia berada di atas sedangkan kakaknya sedang sujud di lantai bawah. Inilah
batasan tertinggi dari adab kesopanan dan pengormatan Habib Husain terhadap
kakaknya.
Habib Husain pertama kali berkunjung ke Indonesia di kota Tuban. Namun di kota
Tuban, tidak lama, ia kemudian pindah lagi dan banyak menetap di kota Jombang.
Kedua kota ini menjadi saksi sebagai tempat tujuan para tamu dari seluruh
pelosok negeri. Ia dikenal ramah dan suka menolong pada orang lain, terutama
kaum fakir miskin. Bahkan tamu yang keluar masuk, siang dan malam selalu
diterima dengan senyuman muka, sambutan penuh cinta dan kasih. Ia pun selalu
memberi nasehat kepada mereka, oleh karenanya para tamu yang hadir ke rumahnya
sangat gembira dengan penghormatan dan nasehat yang bermanfaat.
Dalam menghadapi tamu, khususnya kaum muda dan remaja, ia selalu menasehatkan
agar selalu berbakti pada kedua orang tua (birul walidaian). Ia selalu
menceritakan akan kedudukan dan kebesaran yang tinggi di mata Allah SWT.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,”Ridha Allah itu tergantung dari ridha orang
tua dan murka Allah juga tergantung keduanya.”
Habib Husain menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW juga memberikan ancaman kepada
anak-anak yang durhaka kepada kedua orangtuanya, seperti hadits.”Tiga macam
dosa yang surga diharamkan oleh Allah SWT untuk dimasukinya yaitu orang yang
selalu minumm khamer, orang yang durhaka kepada kedua orang tua, dan dayyuth
(orang yang sengaja memelihara pelacur atau orang yang membiarkan isterinya
melacur).
Daya pikir nya sangat luas. Ini terpancar dari kata-kata yang senantiasa
terpancar penuh hikmah dan ilmu.
Habib Husain sangat menghormati tamu-tamunya. Hal ini dapat dilihat dalam
kehidupan sehari-hari, misalnya saat melayani dan menghormati tamu, menimba air
untuk mengisi kamar mandi di tengah malam sebelum shalat malam, semuanya ia
lakukan sendiri bahkan melarang orang lain untuk melakukan hal itu.
Ia juga sangat memperhatikan keadaan kaum muslimin dengan sungguh-sungguh.
Apabila ia mendengar kabar yang menyenangkan dari mereka, ia sangat gembira.
Tetapi sebaliknya, jika mendengar berita yang tidak baik dan menyusahkan, ia
sangat sedih namun ia langsung mendoakanya semoga kaum muslimin dijauhkan dari
bala dan bencana.
Selain itu, ia dikenal sangat memperhatikan terhadap kemajuan ilmu pengetahuan.
Hal ini dibuktikan dengan kemauannya untuk membantu sekolah-sekolah
Islam….Perasaan gembira dan senang akan timbul bila mendengar berita akan
kemajuan pendidikan agama mereka, tetapi ia akan marah dan menyesal bila mereka
tidak mengindahkan dan menomorsatukan pendidikan umum(duniawiyah), yang mana
nantinya mereka akan menangis darah dan menyesal selamanya jika menyaksikan
putra-putri mereka jauh dari agama Islam dan bahasa Arab.
Puncak ketekunan dalam beribadah adalah istiqamah dan ikhlas. Kebiasaan yang
tidak pernah ia tinggalkan yaitu bangun tengah malam untuk bertahajud dan
munajat kehadhirat Allah SWT.
Kejadian yang luar biasa pada seorang wali Allah, atau karamah dan yang
menherankan serta mengejutkan ini juga terjadi pada Habib Husain. Walaupun ia
tidak suka mengatakan dan menyebutkannya. Ia memiliki sifat kasyaf(mejyingkap
hati seseorang) atas izin Allah.
Pernah terjadi pada orang yang sangat dekat dengannnya. Ketika itu sahabatnya
sedang menunaikan ibadah haji dan saat melaksanakan thawaf ia terjatuh. Saat
terjatuh itulah, pertolongan Allah datang, dan ia mendapati dirinya didekat
Habib Husain. Setelah sadar, orang tersebut mendapati Habib Husain berada
disampignya dan mengatakan bahwa dialah yang telah membantu kecelakaan itu.
Amaliyah ibadahnya, diantaranya bertafakur (merenungkan segala ciptaanAllah
dengan memperhatikan segala rahasia dan keajaiban yang terkandung di dalamnya).
Berdzikir, dimana lisannya tidak pernah bosan dan kering akan menyebut asma
Allah. Setiap detik waktunya, selalu dimanfaatkan untuk mendekatkan diri dengan
ketaatan dan ibadah. Praktis, setiap orang yang dating ke Jombang akan
mendapatkan banyak faedah dari majelis taklimnya.
Habib Husain sangat disukauii oleh segenap lapisan masyarakat yang umum maupun
yang khusus dengan penghormatan yang sempurna. Ia sering menasehati orang-orang
kaya agar membantu kaum fakir miskin dan mengingatkan akan ancaman kepada yang
bakhil dan kikir. Bagi mereka yang menuruti nasehat nya, maka majulah
perdagangannya, tapi sebaliknya, bagi yang bakhil dan kikir, harta benda mereka
tertimpa kemusnahan, kehancuran dan kepailitan.
Habib Husain banyak mempunyai andil dalam pembangunan masjid-masjid dan
madrasah diniyah diantaranya seperti masjid Araudhoh di kota Jombang dan
Madrasah Islamiyah di Gresik.
Sesungguhnya bila diamati, pada hakekatnya Habib Husain terkenal dengan akhlaq,
amal perbuatan serta sifat-sifat baik beliau mengisi kehidupannya antara ibadah
kepada Allah dan memberi faedah kepada hamba-hamba-Nya. Memanfaatkan waktu dan
umurnya serta membelanjakan harta di jalan Allah sampai akhir hayatnya.
Habib Husain wafat pada malam ahad tanggal 21 Jumadil Tsani 1376 H di kota
Jombang. Masyarakayt dari seluruh pelosok dalam dan luar kota berduyun-duyun
bertakziyah, mereka dalam keadaan sedih dan kerugian yang amat besar karena
harus berpisah dengan seorang wali Allah.
Jenazahnya kemudian dishalatkan dan bertindak sebagai imam adalah Habib Ahmad
bin Gholib Al-Hamid dan sesuai wasiatnya, jasadnya kemudian dibawa ke kota
Tegal,pada hari kedua untuk dimakamkan di dekat ayahnya. Bertindak sebagai imam
shalat jenazah Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi.
Al-Habib
Alwi bin Muhammad Alhaddad

Al-Habib Alwi bin
Muhammad Alhaddad dilahirkan di kota Qeidun, Hadramaut, pada tahun 1299 H.
Sanad keturunan beliau termasuk suatu silsilah dzahabiyyah, sambung-menyambung
dari ayah yang wali ke kakek wali, demikian seterusnya sampai bertemu dengan
Rasulullah SAW. Sebagaimana kebanyakan para Saadah Bani Alawi, beliau
dibesarkan dan dididik oleh ayahnya sendiri Al-Habib Muhammad bin Thohir bin
Umar Alhaddad.
Kakek beliau Al-Habib Thohir bin Umar Alhaddad adalah seorang ulama besar di
kota Geidun, Hadramaut. Sedangkan ayah beliau adalah seorang Wali min
Auliyaillah dan ulama besar yang hijrah dari kota Geidun, Hadramaut ke
Indonesia dan menetap di kota Tegal. Beliau Al-Habib Thohir banyak membaca buku
dibawah pengawasan dan bimbingan ayah dan kakek beliau, sehingga diberi ijazah
oleh ayah dan kakeknya sebagai ahli hadist dan ahli tafsir.
Setelah digembleng oleh ayahnya, beliau lalu berguru kepada :
As-Syaikh Abdullah bin Abubakar Al-Murahim Al-Khotib (di kota Tarim)
As-Syaikh Abud Al-Amudi (di kota Geidun)
Setelah itu beliau memulai pengembaraannya di sekitar kota-kota di Hadramaut
untuk menuntut ilmu dan menghiasi kemuliaan nasabnya dengan ilmu-ilmu yang
bermanfaat. Beliau keliling dari satu kota ke kota yang lain untuk mengambil
ilmu dari ulama-ulama besar yang beliau jumpai. Diantara para guru yang beliau
berguru kepada mereka adalah :
Al-Habib Husain bin Muhammad Albar (di Gerain)
Al-Habib Umar bin Hadun Al-Atthas (di Masyhad)
Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Atthas (di Huraidhah)
Al-Habib Muhammad bin Abdullah Al-Atthas (di Maula Amed)
Al-Habib Umar Maula Amed (di Maula Amed)
Al-Habib Abdillah bin Umar bin Sumaith (di Syibam)
Al-Habib Abdullah bin Hasan bin Shaleh Al-Bahar (di Thi Usbuh)
Al-Habib Abdullah bin Muhammad Al-Habsyi (di Hauthoh Ahmad bin Zein)
Al-Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi (di Ghurfah)
Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur (Mufti Hadramaut)
Al-Habib Idrus bin Alwi Alaydrus
Al-Habib Abdulqodir bin Ahmad Alhaddad (di Tarim)
Itulah guru-guru beliau yang ada di Hadramaut, dimana mereka semua kebanyakan
adalah ulama-ulama besar dan tidak jarang pula yang termasuk Wali min
Auliyaillah.
Pada suatu saat, beliau ingin sekali menunaikan ibadah Haji dan lalu berziarah
ke datuk beliau termulia Rasulullah SAW. Setelah mendapat ijin dari kakek
beliau Al-Habib Thohir bin Umar Alhaddad, berangkatlah beliau menuju ke kota
Makkah dan Madinah. Setelah beliau menunaikan keinginannya, timbullah niat
beliau untuk belajar dari para ulama besar yang ada di dua kota suci tersebut.
Lalu beliau menuntut ilmu disana dengan berguru kepada :
As-Syaikh Said Babshail
As-Syaikh Umar bin Abubakar Junaid
Al-Habib Husin bin Muhammad Al-Habsyi (Mufti Syafi’iyah pada masa itu)
Setelah dirasa cukup menuntut ilmu disana, timbullah keinginan beliau untuk
berhijrah ke Indonesia, sebagaimana yang dilakukan sebelumnya oleh ayah beliau
Al-Habib Muhammad. Sesampailah beliau di Indonesia, beliau lalu berziarah ke
makam ayah beliau Al-Habib Muhammad bin Thohir Alhaddad yang wafat di kota
Tegal, Jawa Tengah, pada tahun 1316 H.
Keinginan beliau untuk selalu menuntut ilmu seakan tak pernah luntur dan pupus
terbawa jaman. Inilah salah satu kebiasaan beliau untuk selalu mencari dan
mencari ilmu dimanapun beliau berada. Tidaklah yang demikian itu, kecuali
beliau mencontoh para Datuk beliau yang gemar menuntut ilmu, sehingga mereka
bisa menjadi ulama-ulama besar. Diantara para guru beliau yang ada di Indonesia
adalah :
Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi (di Surabaya)
Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhor (di Surabaya, yang kemudian beliau
dikawinkan dengan anaknya)
Al-Habib Abdullah bin Muhsin Al-Atthas (di Bogor)
Al-Habib Salim bin Alwi Al-Jufri (menetap di Menado)
Al-Habib Idrus bin Husin bin Ahmad Alaydrus (wafat di India dalam dakwahnya)
Di Indonesia, beliau memilih untuk menetap di kota Bogor. Disana beliau
berdakwah dan menyebarkan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Beliau dikenal sebagai
seorang ulama besar dan ahli hadits. Di kota Bogor beliau banyak mengadakan
majlis-majlis taklim dan mengajarkan tentang Al-Islam. Sampai akhirnya beliau dipanggil
oleh Allah menuju ke haribaan-Nya. Beliau wafat di kota Bogor tahun 1373 H dan
dimakamkan di Empang, Bogor.
Seorang ulama besar telah berpulang, namun jejak-jejak langkah beliau masih
terkenang. Nama baik beliau selalu tersimpan dalam hati para pecintanya…dalam
hati yang paling dalam, menyinari kehidupan suram nan kelam…
Radhiyallahu anhu wa ardhah…
Habib
Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang)

Beliau adalah Habib
‘Ali bin ‘Abdur Rahman bin ‘Abdullah bin Muhammad al-Habsyi. Lahir di Kwitang,
Jakarta, pada 20 Jamadil Awwal 1286H / 20 April 1870M. Ayahanda beliau adalah
Habib ‘Abdur Rahman al-Habsyi seorang ulama dan daie yang hidup zuhud, manakala
bonda beliau seorang wanita sholehah bernama Nyai Hajjah Salmah puteri seorang
ulama Betawi dari Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur.
Adapun kakeknya, Habib Abdullah bin Muhammad Al-Habsyi, dilahirkan di
Pontianak, Kalimantan Barat. Dia menikah di Semarang. Dalam pelayaran kembali
ke Pontianak, ia wafat, karena kapalnya karam. Adapun Habib Muhammad Al-Habsyi,
kakek buyut Habib Ali Kwitang, datang dari Hadramaut lalu bermukim di Pontianak
dan mendirikan Kesultanan Hasyimiah dengan para sultan dari klan Algadri.
Habib ‘Abdur Rahman ditakdirkan menemui Penciptanya sebelum sempat melihat
anaknya dewasa. Beliau meninggal dunia sewaktu Habib ‘Ali masih kecil. Sebelum
wafat, Habib ‘Abdur Rahman berwasiat agar anaknya Habib ‘Ali dihantar ke
Hadhramaut untuk mendalami ilmunya dengan para ulama di sana. Tatkala berusia
lebih kurang 11 tahun, berangkatlah Habib ‘Ali ke Hadhramaut. Tempat pertama
yang ditujunya ialah ke rubath Habib ‘Abdur Rahman bin ‘Alwi al-’Aydrus. Di
sana beliau menekuni belajar dengan para ulamanya, antara yang menjadi gurunya
ialah Shohibul Mawlid Habib ‘Ali bin Muhammad al-Habsyi, Habib Hasan bin Ahmad
al-’Aydrus, Habib Zain bin ‘Alwi Ba’Abud, Habib Ahmad bin Hasan al-’Aththas dan
Syaikh Hasan bin ‘Awadh. Beliau juga berkesempatan ke al-Haramain dan meneguk
ilmu daripada ulama di sana, antara gurunya di sana adalah Habib Muhammad bin
Husain al-Habsyi (Mufti Makkah), Sayyidi Abu Bakar al-Bakri Syatha ad-Dimyati,
(pengarang I’aanathuth Thoolibiin yang masyhur) Syaikh Muhammad Said Babsail,
Syaikh ‘Umar Hamdan dan ramai lagi.
Ia dikenal sebagai penggerak pertama Majelis Taklim di Tanah Betawi. Majelis taklim
yang digelar di Kwitang, Jakarta Pusat, merupakan perintis berdirinya majelis
taklim-majelis taklim di seluruh tanah air.
Majelis taklim Habib Ali di Kwitang merupakan majelis taklim pertama di
Jakarta. Sebelumnya, boleh dibilang tidak ada orang yang berani membuka majelis
taklim. Karena selalu dibayang-bayangi dan dibatasi oleh pemerintah kolonial,
Belanda.
Setiap Minggu pagi kawasan Kwitang didatangi oleh puluhan ribu jamaah dari
berbagai pelosok, tidak hanya dari Jakarta, saja namun juga dari Depok, Bogor
Sukabumi dan lain-lain. Bagi orang Betawi, menyebut Kwitang pasti akan teringat
dengan salah satu habib kharismatik Betawi dan sering disebut-sebut sebagai
perintis majelis Taklim di Jakarta, tiada lain adalah Habib Ali bin Abdurrahman
bin Abdullah Al-Habsyi atau yang kerap disapa dengan panggilan Habib Ali
Kwitang.
Menurut beberapa habib dan kiai, majelis taklim Habib Ali Kwitang akan bertahan
lebih dari satu abad. Karena ajaran Islam yang disuguhkan berlandaskan tauhid,
kemurnian iman, solidaritas sosial, dan nilai-nilai keluhuran budi atau
akhlakul karimah. Habib Ali, kata mereka, mengajarkan latihan kebersihan jiwa
melalui tasawuf. Dia tidak pernah mengajarkan kebencian, hasad, dengki, gibah,
ataupun fitnah. Sebaliknya, almarhum mengembangkan tradisi ahlulbait, yang
menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, menghormati hak setiap manusia tanpa
membedakan status sosial.
Dua tahun setelah sang ayah wafat, Habib Ali Kwitang yang saat itu masih
berusia 11 tahun, berangkat belajar ke Hadramaut. – sesuai wasiat ayahandanya
yang kala itu sudah wafat. Tempat pertama yang dituju adalah rubath Habib
Abdurrahman bin Alwi Alaydrus. Di majelis mulia itu ia juga membaca kitab
kepada Habib Hsan bin Ahmad Alaydrus, Habib Zen bin Alwi Ba’abud dan Syekh
Hasan bin Awadh bin Makhdzam.
Di antara para gurunya yang lain di Hadramaut yaitu Habib Ali bin Muhammad
Al-Habsyi (penyusun Simthud Durar), Habib Ahmad bin Hasan Alatas (Huraidah),
dan Habib Ahmad bin Muhsin Al-Hadar (Bangil). Selama 4 tahun, Habib Ali Kwitang
tinggal di sana, lalu pada tahun 1303 H/1886 M ia pulang ke Betawi.
Pulang dari Hadramaut , ia belajar kepada Habib Utsman bin Yahya (mufti
Batavia), Habib Husein bin Muhsin Alatas (Kramat, Bogor), Habib Alwi bin
Abdurrahman Al-Masyhur, Habib Umar bin Idrus Alaydrus, Habib Ahmad bin Abdullah
bin Thalib Al-Aththas (Pekalongan), Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhor
(Bondowoso).
Ketika terjadi perang di Tripoli Barat (Libya), Habib Utsman menyuruh Habib Ali
Kwitang untuk berpidato di masjid Jami’ dalam rangka meminta pertolongan pada
kaum muslimin agar membantu umat Islam yang menderita di Tripoli. Padahal pada
waktu itu, Habib Ali Kwitang belum terbiasa tampil di podium. Tapi, dengan
tampil di podium atas suruhan Habib Utsman, sejak saat itu lidahnya fasih dalam
memberikan nasehat dan kemudian ia menjadi dai.
Setelah itu, ia pergi ke Kota Pekalongan untuk berkunjung kepada Habib Ahmad
bin Abdullah Al-Aththas. Saat itu hari Jum’at, selepas shalat Jum’at, Habib
Ahmad menggandeng tangan Habib Ali dan menaikannya ke mimbar. Habib Ali lalu
berkata pada Habib Ahmad, ”Saya tidak bisa berbicara bila antum berada di
antara mereka.” Habib Ahmad lalu berkata kepadanya, ”Bicaralah menurut lidah
orang lain”(seolah-olah engkau orang lain).
Ia mulai melaksanakan maulid akhir Kamis bulan Rabiul Awwal setelah wafatnya
Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi sejak tahun 1338 H/1920 M sampai 1355 H/1937
M di madrasah Jamiat Kheir. Kemudian pada tahun 1356 H/1938 M ia membangun
masjid di Kwitang yang dinamakan masjid Ar-Riyadh. Lalu maulid dipindahkan ke
masjid tersebut pada tahun 1356 H. Ia mengusahakan pada kawan-kawan dari
keluarga Al-Kaf agar mewakafkan tanah masjid itu, sampai ia menulis surat
kepada Sayyid Abubakar bin Ali bin Abubakar Shahabuddin agar berangkat ke
Hadramaut untuk berbicara dengan mereka. Setelah Sayyid Abubakar bernegosiasi,
akhirnya masjid itu diwakafkan, sehingga tanah itu sampai sekarang tercatat
sebagai wakaf pada pemerintah Hindia Belanda.
Ukuran tanah masjid itu adalah seribu meter persegi. Habib Ali Habsyi juga
membangun madrasah yang dinamakan unwanul Falah di samping masjid tersebut yang
tanahnya sekitar 1500 meter persegi dan membayar sewa tanah sebesar 25 rupiah
setiap bulan. Kesimpulannya, pekerjaan-pekerjaan dan perbuatan-perbuatannya
mengherankan orang yang mau berfikir. Shalatnya sebagian besar dilakukannya di
masjid tersebut.
Habib Ali menunaikan haji 3 kali. Pertama tahun 1311 H/1894 M di masa Syarif
Aun, kedua tahun 1343 H/1925 M di masa Syarif Husein, dan ketiga tahun 1354
H/1936 M di masa Ibnu Saud dan pergi ke Madinah 2 kali.
Habib Ali sebagaimana para habaib lainnya juga suka melakukan surat menyurat
dengan para ulama dan orang-orang sholeh serta meminta ijazah dari mereka. Dan
para ulama yang disuratinya pun dengan senang hati memenuhi permintaan Habib
Ali karena kebenaran niat dan kebagusan hatinya. Ia memiliki kumpulan surat
menyurat yang dijaga dan dinukilkan (dituliskan ) kembali.
Sayyid Abubakar bin Ali bin Abubakar Shahabuddin dalam Rikhlatu Asfar
menyebutkan perasaan kecintaan dan persahabatan yang sangat erat. Dalam catatan
perjalanan itu, Sayyid Abubakar mencatat saat-saat perjalanan (rikhlah) mereka
berdua ke berbagai daerah seperti ke Jawa, Singapura dan Palembang.”Saya juga
menghadiri pelajaran-pelajarannya dan shalat Tarawih di masjid. Tidak ada yang
menghadalangi saya kecuali udzur syar’i (halangan yang diperbolehkan oleh
syariat).”
Pada salah satu surat Sayyid Abubakar ketika Habib Ali Kwitang di Hadramaut,
menyebutkan, “Perasaan rindu saya kepadamu sangat besar. Mudah-mudahan Allah
mempertemukan saya dan engkau di tempat yang paling disukai oleh-Nya.”
Ternyata setelah itu, mereka berdua dipertemukan oleh Allah di Makkah
Al-Musyarrafah. Keduanya sangat bahagia dan belajar di Mekah, mengurus madrasah
dan majelis taklimnya diserahkan kepada menantunya, Habib Husein bin Muhammad
Alfaqih Alatas. Di Mekah ia mendapat ijazah untuk menyelenggarakan Maulud
Azabi, karya Syekh Umar Al-Azabi, putra Syekh Muhammad bin Muhammad Al-Azabi.
Setelah Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, penyusun Simthud Durar, wafat pada
1913, pembacaan Maulid Simthud Durar pertama kali digelar di Jatiwangi,
Majalengka, Jawa Barat, di majelis taklim yang diasuh Habib Muhammad bin Idrus
Al-Habsyi. Belakangan Maulid Simthud Durar dibaca di majelis taklim di Tegal,
Jawa Tengah, kemudian di Bogor, selama beberapa tahun, lalu di Masjid Ampel,
Surabaya.
Tahun 1919, Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi, pelopor peringatan Maulid
dengan membaca Simthud Durar, wafat di Jatiwangi. Sebelum wafat ia berpesan
kepada Habib Ali Al-Habsyi agar melanjutkannya. Maka sejak 1920 Habib Ali
Kwitang mulai menggelar Maulid dengan membaca Simthud Durar di Tanah Abang.
Ketika Ar-Rabithah Al-Alawiyah berdiri, perkumpulan itu mendukung Maulid
tersebut. Dan sejak 1937 acara Maulid diselenggarakan di Masjid Kwitang – yang
kemudian disiarkan secara khusus oleh RRI Studio Jakarta.
Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi wafat 23 Oktober 1968 dalam usia 102 tahun.
Ketika itu, TVRI menjadi satu-satunya stasiun televisi yang menyiarkan berita
duka cita. Ribuan orang berbondong-bondong melakukan takziah ke kediamannya di
Kwitang, Jakarta Pusat, yang sekaligus menjadi majelis taklim tempat ia
mengajar.
Sejumlah menteri dan pejabat tinggi negara berdatangan memberikan penghormatan
terakhir. Sejumlah murid almarhum dari seluruh Jawa, bahkan seluruh Indonesia
dan luar negeri, juga datang bertakziah. Sebelum jenazah di makamkan di Masjid
Ar-Riyadh, yang dipimpinnya sejak ia muda, Habib Salim bin Jindan, yang sering
berdakwah bersama almarhum, membaiat Habib Muhammad, putra almarhum, sebagai
penerusnya. Ia berpesan agar meneruskan perjuangan almarhum dan memegang teguh
akidah Alawiyin.
Ada kisah menarik sebelum almarhum wafat. Suatu hari, ia minta tiga orang kiai
kondang asal Jakarta maju ke hadapannya. Mereka adalah K.H. Abdullah Syafi’i,
K.H. Thahir Rohili, dan K.H. Fathullah Harun. Habib Ali mempersaudarakan mereka
dengan putranya, Habib Muhammad. Dalam peristiwa mengharukan yang disaksikan
ribuan jemaah itu, Habib Ali berharap, keempat ulama yang dipersaudarakan itu terus
mengumandangkan dakwah Islam.
Harapan Habib Ali menjadi kenyataan. Habib Muhammad meneruskan tugas
ayahandanya memimpin majelis taklim Kwitang selama 26 tahun. K.H. Abdullah
Syafi’i, sejak 1971 hingga 1985, memimpin Majelis Taklim Asy-Syafi’iyah, dan
K.H. Thahir Rohili memimpin Majelis Taklim Ath-Thahiriyah. Sedangkan K.H.
Fathullah Harun belakangan menjadi ulama terkenal di Malaysia.
Tidak mengherankan jika ketiga majelis taklim tersebut menjadikan kitab
An-Nasaih ad-Diniyyah, karya Habib Abdullah Alhadad, seorang sufi dari
Hadramaut, penyusun Ratib Hadad, sebagai pegangan. Sebab, kitab itu juga
menjadi rujukan Habib Ali Kwitang.
Betapa erat hubungan antara ulama Betawi dan para habaib, dapat kita simak dari
pernyataan (alm) K.H. M. Syafi’i Hadzami tentang dua gurunya, Habib Ali
Al-Habsyi dan Habib Ali Alatas (wafat 1976). “Sampai saat ini, bila lewat
Cililitan dan Condet (dekat Masjid Al-Hawi), saya tak lupa membaca surah
Al-Fatihah untuk Habib Ali Alatas,” katanya.
Supaya dekat dengan rumah Habib Ali, gurunya yang tinggal di Bungur, Kiai
Syaf’i Hadzami pindah dari Kebon Sirih ke Kepu, Tanah Tinggi. Ia juga tak
pernah mangkir menghadiri majelis taklim Habib Ali di Kwitang, Jakarta Pusat.
Ketika ia minta rekomendasi untuk karyanya, Al-Hujujul Bayyinah, Habib Ali
bukan saja memujinya, tapi juga menghadiahkan sebuah Al-Quran, tasbih, dan uang
Rp 5.000. Kala itu, nilai uang Rp 5.000 tentu cukup tinggi.
Demikianlah akhlaq para orangtua kita, akhlaq yang begitu indah antara murid
dan guru. Kala itu para habib bergaul erat dan tolong-menolong dengan para
ulama Betawi. Akhlaq yang sangat patut kita teladani sebagai generasi
penerusnya.
Habib
Muhammad bin Ahmad Al Muhdhor

Ulama Bondowoso
kelahiran Hadro maut merupakan sosok ulama karismatik yang menjadi panutan
masyarakat serta rujukan ilmu dari para ulama. Putra dari seorang ulama besar
lahir di desa Quwairoh Hadro maut sekitar tahun 1280 H atau 1859 M. Ayah beliau
bernama Habib Ahmad bin Muhammad al muhdhar seorang ulama besar di hadro maut.
sejak kecil habib Muhammad bin Ahmad Al muhdhor menuntut ilmu dari ayahnya,
kecerdasan dan penguasaan materi yang di berikan Ayahnya membuat Ayahnya merasa
bangga terhadap putranya. Menginjak Remaja Habib Muhammad Muhdhor belajar
kepada seorang Ulama dan Waliyulloh bernama Habib Ahmad bin Hasan Al athos.
Gurunya walaupun buta namun mampu melihat dengan pandangan Batiniyyah yang
telah dikaruniakan Alloh SWt.
Sewaktu Gurunya Habib Ahmad bin Hasan Al athos pergi ke suatu daerah untuk
berdakwah , beliau mengajak Muridnya Habib Muhammad Al muhdhor untuk
menemaninya. Mereka menunggang kuda bersebelahan, dalam perjalanan Habib
Muhammad minta izin gurunya untuk membacakan Kitab Al Muhadzdzab karya Imam Abu
Ishak. Dan sepanjang Perjalanan Habib Muhammad Al Muhdhor membaca Kitab
Muhadzdzab sedangkan gurunya menyimak bacaan Muridnya sampai khatam. Selesai
menghatamkan Kitab Muhadzadzab gurunyapun mendo’akan habib Muhammad al muhdhor
.
Tahun 1886 M Habib Ahmad Al muhdhor ayah Habib Muhmmad al muhdhor meninggal
dunia , Orang yang selama ini menjadi sugesti dan tempat mengadu telah
dipanggil Alloh SWt. Setelah itu pula habib Muhammad al muhdhor mulai melakukan
ritual Dakwahnya ke berbagai daerah. Gaya bahasa dan tutur kata yang lembut
mampu meluluhkan hati setiap orang. Setiap kali daerah yang dikunjungi nya
selalu ramai orang berbondong -bondong mengelilinginya untuk belajar kepadanya.
Setelah sekian lama melakukan ritual dakwahnya kebebagai daerah hingga akhirnya
Beliau menetap di Bondowoso Jawa timur. Keharuman namanya serta kedalaman ilmu
yang dimiliki mampu membuat simpatik masyarakat serta para ulama dari berbagai
daerah Ditanah air. Salah seorang ulama Surabaya Habib Muhammad bin Idrus Al
Habsyi sangat mengagumi habib Muhammad Al Muhdor hingga Menikahkan dengan salah
seorang putrinya. Mertua dan Menantu yang memang seorang ulama bahu membahu
untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar kepada masyarakat, pendirian Madrasah
Al Khaeiriyyah Surabaya dan darul Aitam Jakarta adalah juga merupakan usaha
dari Habib Muhammad Muhdhor untuk mengajak para Donatur menyisihkan hartanya
membangun tempat tersebut.
Majlisnya tak pernah sepi dari para Muhiibin yang menghadirinya , kepedulian
Habib Muhammad al muhdhor terhadap ilmu sangat besar maka tak heran bila beliau
mendapat tempat tersendiri di hati para ulama . tak jarang beliau menghabiskan
waktunya untuk menelaah kitab -kitab dan mengajarkannya kepada umat. Perhatian
beliau terhadap umatpun sangat besar, tak segan segan Habib Muhammad membantu
kesulitan umat baik berupa materi mapun imateril. Begitupun terhadap tamu yang
berkunjung ke rumahnya, beliau akan sambut tamu tersebut di depan pintu dengan
senyumnya yang bersahaja, maka tak jarang para tamu yang berkunjung kerumahnya
untuk datang kembali karena keramah tamahan yang dimilki Habib Muhammad Al
muhdhor.
Tanggal 4 may 1926 Habib Muhammad al muhdhor Wafat setelah beberapa hari di
rawat di Rumah sakit di surabaya, beliau meninggalkan 5 orang putra dan 3 anak
perempuan. Masyarakat dan para ulama baik dari Ahli bait maupun ahwal merasa
sangat kehilangan sosok ulama yang sangat perduli dengan umat. Beliau
dimaqomkan disamping maqom mertuanya Habib muhammad al habsy.
sumber : http://pondokhabib.wordpress.com
Habib
Muhammad bin Idrus Al-Habsyi (Surabaya)
Habib Muhammad bin
Idrus Al-Habsyi lahir di kota Khola’ Rasyid, Hadramaut, pada tahun 1265 H. Ayah
beliau, Al-Imam Al-‘Arifbillah Al-habib Idrus bin Muhammad Al-Habsyi telah
dahulu datang ke Indonesia untuk berdakwah. Beliau wafat dan di makamkan di
kota Cirebon. Sedangkan ibu beliau di asuh oleh pamannya, Al-Habib Sholeh bin
Muhammad Al-Habsyi. Sejak itu beliau besar dalam didikan pamannya. Sang paman
inilah yang membentuk jiwa dan kepribadian Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi.
Pada mudanya, Habib Muhammad bin Idrus Al-habsyi giat dalam menuntut ilmu.
Walaupun usianya masih muda, beliau mampu dengan mudah menguasai dan
memahaminya. Berbagai ilmu agama yang beliau dapatkan dari para ilama dan
auliya’, diantaranya ilmu tafsir, hadis dan fikih. Para gurunya telah
menyaksikan ketaqwaan dan kedudukan beliau sebagai seorang yang tak kenal lelah
dalam mengamalkan ilmunya.
Salah seorang auliya’ Al-Imam Al-Qutub Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi
(Shahib Maulid Simtudurrar) telah mengutarakan dalam surat-menyurat beliau :
“Sesungguhnya orang-orang berpergian ke Indonesia untuk bekerja dan mencari
harta keduniaan, akan tetapi, putra kami Habib Muhammad bin Idrus Al-habsyi
bekerja untuk Allah, dia berdakwah untuk mencapai Ash-Shidiqiyyah Al-kubra.”
(Tingkat tertinggi dikalangan Auliya).
Ketika beranjak remaja beliau pergi ke tanah suci untuk menunaikan obadah haji
dan berziarah ke makam datuknya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam di
Madinah. Disana beliau menetap beberapa waktu. Hal itu dipergunakan oleh beliau
untuk menimba ilmu dari para ulama yang berada di Haramain (Mekkah dan
Madinah), diantaranya kepada Al-Imam Al-habib Husein bin Muhammad Al-Habsy.
Sebagaimana para pendahulunya, beliau berdakwah dari satu daerah ke daerah yang
lain. Dalam setiap kali perjalanannya itu, beliau tidak bermalam di sebuah
tempat yang di singgahi kecuali di tempat tersebut terdapat Ahlul Bait
Rasulullah Shallahu ‘alaihi Wassalam.
Habib Muhammad bin Idrus Al-habsyi di kenal memiliki akhlak serta budi pekerti
yang luhur, beliau murah tangan dan kasih saying terhadap sesame. Hrta miliknya
tidak segan-segan diberikan kepada siapapun yang membutuhkannya. Beliau adalah
seorang tutur katanya lemah lembut serta penuh dengan hikmah dan selalu
tersenyum bila bertemu dengan siapapun. Ahklak dan perangainya meneladani
datuknya, Rasulullah shallahu ‘alaiyhi wassalam.
Beliau memelihara anak-anak yatim di rumahnya. Anak-anak yatim menganggap Habib
Muhammad bin Idrus Al-habsyi adalah ayah mereka sendiri, di dalam memberikan
pakaian, makanan, minuman dan tempat tidur. Apabila anak-anak yatim itu telah
beranjak dewasabeliau yang mengurus perkawinan mereka dan memberikan segala
sesuatu yang mereka butuhkan. Tidak mengherankan, jika beliau dianggap sebagai
ayah dari anak-anak yatim tersebut.
Rumah beliau selalu terbuka bagi para tetamu yang dating. Tidak sedikit para
tamu tersebut yang menginap di rumah beliau, dan beliau sendirilah yang
menyiapkan dan melayani kebutuhan para tamunya itu. Setiap tamu yang dating ke
tempat beliau, baik dalam maupun luar kota selalu disambut dengan ramah dan
sendang hati, bahkan apabila tamu yang dating orang yang tidak mampu, maka
diberikan kepadanya ongkos untuk pulang dengan disertai hadiah utnuk anak dan
istrinya. Hal ini yang menjadikan Habib Muhammad bin Idrus Al-habsyi begitu
disegani dan dicintai masyarakat luas. Beliau memiliki kebiasaan mendamaikan
dua belah pihak yang bertengkar dan berselisih faham. Meskipun masalah itu
besar dan sulit, tapi dapat beliau selesaikan dengan baik. Sebagian amal
jariyah beliau, diantaranya adalah, pembangunan masjid di Purwakarta,
pembangunan Masjid Ar-Raudhah di kota Jombang, dan lain-lainnya. Beliau sebagai
perintis pertama pengadaan haul para auliya’ dan kaum shalihin baik yang masih
hidup ataupun yang sudah meninggal. Untuk pertama kalinya, beliau mengadakan
haul guru beliau Al-Imam Al-hHabib Muhammad bin Thohir Al-Haddad, yang makamnya
berada di kota Tegal. Beliau senantiasa berziarah ke tempat para auliya’ dan
shalihin, baik yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal yang di ikuti oleh
khalaya ramai.
Semasa hidurpnya, beliau selalu taat dan takwa kepada Allah dan Rasul-Nya,
serta senantiasa menladani para shalaf bani alawi yang merupakan leluhurnya.
Beliau selalu memberikan maanfaat kepada para hamba Allah, dengan memanfaakan
waktu, umur, serta membelanjakan hartanya di jalan Allah hingga akhir hayatnya.
Habib Muhammad bin Idrus Al-habsyi wafat pada pertengahan malam, hari rabu, 12
Rabiul Tsani 1337 H, di Kota Surabaya. Jasad beliau di makamkan dalam Qubbha di
pemakaman Al-Habib Hasan Al-Habsyi di kawasan Masjdi Ampel Surabaya, pada hari
Rabu waktu Ashar. Bertindak sebagai imam dalam shalat jenazah beliau adalah,
Al-habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhorm, yang merupakan menantu, murid
sekaligus sahabat beliau.
Habib
Abdullah bin Muhsin Al-Attas (Keramat Empang, Bogor)

Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas (Keramat Empang) pernah berkata kepada
santri kesayangannya Habib Alwi bin Thahir Al-Haddad: “Ya Alwi, ilmu ana bakal
ana kasih kepada semua murid, tapi sir ana gak akan ana kasih kepada anak dan
murid ana. Kecuali kepada orang yang bisa menggali sir ana.” Memang, pada
kenyataannya semua anak didik Habib Abdullah bin Muhsin adalah orang alim,
tidak ada yang tidak alim. Semua termasuk golongan min Kibaril ulama pada
masanya, yaitu: Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir Al-Haddad, Habib Alwi bin
Abdurrahman Al-Habsyi, Habib Ahmad bin Alwi Al Haddad, Habib Usman bin Abdullah
bin Agil bin Yahya (Mufti Betawi), Habib Muhsin Keramat Jati, Habib Abubakar
bin Muhammad Assegaf (Gresik).
Meskipun Habib Hasan bin Ja’far dari jalur ayahnya adalah golongan Assegaf,
namun di kalangan umat beliau dikenal sebagai bangsa Alattas. Mungkin, karena
sir kakeknya itu terwariskan ke dalam dirinya, maka ia lebih dikenal sebagai
Alattas daripada Assegaf. Dari jalur ibu Habib Hasan memiliki jalur silsilah:
Fatimah binti Hasan, bin Muhsin bin Abdullah bin Muhsin Allattas. Jadi Habib
Abdullah (Keramat Empang-Bogor) merupakan kakek buyutnya.
Kalangan awam lebih mengenal habib Abdullah bin Muhsin Alattas dengan sebutan
Habib Keramat Empang. Konon nama empang berasal dari sebuah kolam yang berada
di depan rumah beliau. Dengan izin Allah, melalui perantara empang inilah
beliau banyak menyembuhkan orang sakit. Sehingga beliau terkenal dengan sebutan
Habib Keramat Empang.
Nasab beliau adalah: Al-Habib Abdullah bin Muhsin bin Muhammad bin Muhsin bin
Husein bin Al-Qutub Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas bin Agil bin Salim
bin Abdullah bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin
Alwi Al-Ghuyyur bin Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam bin Ali bin Muhammad Sahib
Mirbath bin Ali Khala' Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin 'Ubaidillah bin
Ahmad Al-Muhajir bin 'Isa bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-'Uraidhi bin Ja’far
Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal 'Abidin bin Husein bin Ali bin
Abi Thalib suami Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam.
Beliau lahir di Al-Kasri, sebuah desa di Hadramaut, pada hari Selasa 20 Jumadil
Awwal 1265 H bertepatan dengan tahun 1849 M. Semenjak kecil Al-Habib Abdullah
belajar ilmu agama dan Al-Qur'an di bawah didikan Asy-Syeikh Umar bin Faraj bin
Sabbah. Kemudian oleh sang ayah beliau dikirim ke beberapa ulama di Hadramaut
untuk mempelajari berbagai ilmu keislaman. Diantaranya beliau berguru kepada
Al-Qutub36 Al-Habib Abubakar bin Abdullah Al-Attas dan Al-Imam Al-Habib Sholeh
bin Abdullah Al-Attas.
Melalui pendidikan agama dan lingkungan salaf yang kental, membentuk sosok
Habib Abdullah kecil memiliki perilaku shaleh dan berakhlak luhur. Sehingga
pada suatu waktu, seorang tokoh auliya’ di Hadramaut saat itu Al-Habib Ahmad
bin Muhammad Al-Habsyi ketika melihat Al-Habib Abdullah, beliau mengatakan:
”Sungguh anak kecil ini kelak akan menjadi orang yang mulia kedudukannya.”
Ketika remaja beliau sangat gemar berziarah kepada para ulama untuk belajar dan
mengambil ijazah kepada mereka. Di antara ulama yang sering beliau kunjungi
adalah: Al-Imam Al-Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhar, Al-Habib Ahmad bin
Abdillah Al-Baar dan Asy-Syeikh Muhammad bin Abdullah Basudan.
Sekitar tahun 1282 H, kala itu usianya 18 tahun, beliau pergi ke tanah suci
untuk menunaikan ibadah haji untuk yang pertama kalinya dan berziarah ke makam
datuknya Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam di Madinah. Di sana beliau
berkesempatan menimba ilmu kepada para ulama yang berada di Makkah dan Madinah.
Seusai menjalankan ibadah haji beliau pulang ke Hadramaut dengan membawa ilmu
dan keberkahan. Sesampainya di Hadramaut, Al-Habib Abdullah menimba ilmu di
Kota Tarim dan sekitarnya. Disana beliau bertemu para ulama dan auliya’, dalam
kesempatan ini beliau pergunakan untuk meminta do’a dan ijazah kepada mereka.
sumber :
http://muslimnas.blogspot.com
Al-Habib
Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas, Pekalongan

Al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alatas
dilahirkan di kota Hajeriem, Hadramaut, pada tahun 1255 H. Pada masa kecilnya,
beliau mendapat didikan langsung dari ayah beliau Al-Habib Abdullah bin Thalib
Alatas. Setelah dirasakan cukup menimba ilmu dari ayahnya, beliau kemudian
meneruskan menuntut ilmu kepada para ulama besar yang ada di Hadramaut.
Diantara para guru beliau adalah :
Al-Habib Hasan bin Ali Alkaff
Al-Habib Al-Qutub Sholeh bin Abdullah Alatas
Al-Habib Al-Qutub Abubakar bin Abdullah Alatas
Al-Habib Al-Qutub Thahir bin Umar Alhaddad
Al-Habib Al-Qutub Idrus bin Umar Alhabsyi
Al-Habib Ahmad bin Hasan bin Sholeh Al-Bahar
Al-Habib Muhammad bin Ibrahim Balfagih
Setelah ditempa oleh para ulama besar bahkan
para Qutub yang ada di Hadramaut saat itu, keinginan beliau untuk menuntut ilmu
seakan tak pernah luntur dan pupus. Hasrat beliau untuk menambah ilmu sedemikian
hebat, sehingga untuk itu beliau kemudian melakukan perjalanan ke kota Makkah.
Beliau banyak menjumpai ulama-ulama besar yang tinggal di kota Makkah saat itu.
Kesempatan baik ini tak beliau sia-siakan. Beliau berguru kepada mereka.
Diantara ulama-ulama besar yang menjadi guru beliau disana adalah :
As-Sayyid Al-Allamah Ahmad bin Zaini Dahlan
(Mufti Makkah saat itu)
Al-Habib Abdullah bin Muhammad Alhabsyi
Asy-Syaikh Muhammad bin Said Babsail
Al-Habib Salim bin Ahmad Alatas
Beliau Al-Habib Ahmad dengan giat dan tekun
mengambil ilmu dari mereka. Sehingga tak terasa sudah 12 tahun beliau jalani
untuk menimba ilmu disana. Beliau terus mengembangkan keilmuannya, sehingga
kapasitas beliau sebagai seorang ulama diakui oleh para ulama kota Makkah saat
itu.
Beliau kemudian dianjurkan oleh guru beliau,
As-Sayyid Al-Allamah Ahmad bin Zaini Dahlan, untuk memulai terjun ke
masyarakat, mengajarkan ilmu dan berdakwah. Mula-mula beliau berdakwah di
pinggiran kota Makkah. Beliau tinggal disana selama 7 tahun. Dalam kurun waktu
itu, kegiatan dakwah selalu aktif beliau lakukan disana.
Kemudian beliau berkeinginan untuk melanjutkan
perjalanan dakwah beliau ke Indonesia. Beliau sampai disini diperkirakan
sekitar tahun 1295-1300 H. Setibanya beliau di Indonesia, beliau menuju ke kota
Pekalongan dan menetap disana.
Di kota Pekalongan beliau selalu aktif
meneruskan kegiatan-kegiatan dakwahnya. Beliau tidak ambil pusing dengan
urusan-urusan duniawi. Semua fikrah beliau semata ditujukan untuk kepentingan
dakwah. Waktu beliau selalu terisi dengan dakwah, ibadah, dzikir kepada Allah
dan rajin membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an. Selain itu, ilmu beliau selalu
tampak bercahaya, terpancar melalui akhlak beliau yang mulia. Beliau selalu
berperilaku baik, penyayang dan lemah lembut terhadap sesama.
Akan tetapi itupun tidak meniadakan sikap beliau
yang selalu ber-nahi mungkar. Jika beliau melihat seseorang yang melakukan
suatu kemungkaran, beliau tidak segan-segan untuk menegurnya.
Perkataan-perkataan yang keluar dari mulut beliau, selalu beliau ucapkan dengan
shidq. Beliau tidak perduli terhadap siapapun jika ada hak-hak Allah yang
dilanggar di hadapan beliau. Sehingga berkat beliau, izzul Islam wal Muslimin
tampak terang benderang, menyinari kota Pekalongan.
Disamping itu, dari sebagian jasa-jasa baik
beliau, beliau membangun beberapa masjid dan madrasah Salafiyah, yang berjalan
pada thariqah para salaf beliau yang shaleh. Rumah beliau selalu penuh dengan
tamu dan beliau sambut dengan ramah-tamah. Inilah akhlak beliau yang
mensuri-tauladani akhlak dan perilaku datuk-datuk beliau.
Sampai akhirnya beliau dipangil ke hadratillah,
pergi menuju keridhaan Allah. Beliau wafat pada tanggal 24 Rajab 1347 H di kota
Pekalongan dan dimakamkan disana. Masyarakat berbondong-bondong mengiringi
kepergian beliau menghadap Allah. Derai keharuan sangat terasa, membawa suasana
syahdu…
Selang setahun kepergian beliau, untuk
menghidupkan kembali kesuri-tauladan dan mengenang jasa-jasa baik beliau,
setiap tahun di kota tersebut diadakan Haul beliau. Haul tersebut banyak
dihadiri oleh berbagai kalangan umat Islam. Mereka berduyun-duyun dari berbagai
kota hadir disana, demi mengenang kehidupan beliau…demi menjemput datangnya
nafaahat dan imdaadat.
Radhiyallohu anhu wa ardhah…
Rabbi fanfa'naa bibarkatihim wahdinal husnaa bihurmatihim,
Wa amitnaa fii thoriqotihim wa mu'aafatim minal fitani. Aamiin...