Rabu, 25 Mei 2016

Wasiat Alhabib Zayn bin Ibrahim bin Smith Seputar Bulan Ramadhan

WASIAT DARI ASY-SYAIKH AL-'ALLAMAH AL HABIB ZAYN BIN IBRAHIM BIN SUMAYTH TENTANG BAGAIMANA TARHIB (MENYAMBUT DAN MENGGEMARKAN ATAS) BULAN RAMADHAN
Wasiat tentang Ramadhan dari Al Habib Zain bin Smith semoga beliau di jaga allah dari segala keburukan. aamiin...
Aku wasiatkan kepada kalian semua untuk setidaknya menjaga 3 hal :
1) MENJAGA PUASA KALIAN SEPERTI KALIAN MENJAGA HARTA YANG PALING BERHARGA KALIAN.
Dan maksud daripada menjaga puasa menjaganya dari apa-apa yg membatalkannya dan membatalkan pahalanya, dan apa-apa yg membatalkan puasa sudah jelas kita semua mengetahuinya yaitu makan minum dan lain sebagainya, dan sesuatu yg membatalkan pahalanya seperti berbohong menggunjing orang lain dan semua yg di benci oleh Allah SWT, maka itu tidak membatalkan puasa tapi itu membatalkan pahalanya maka rasa capek berpuasa menjadi sia-sia seperti yg di sebutkan dalam hadist "Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan darinya kecuali rasa lapar dan haus dan berapa banyak yang bangun malam tidak mendapatkan apa-apa kecuali capek dan begadang."
Maka sudah seharusnya orang yang berpuasa tidak memusuhi orang lain atau berdebat atau mengucapkan kata-kata kotor akan tetapi menyibukkan waktu-waktunya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT karena amalan-amalan di bulan ramadhan di lipat gandakan, dan wajib atas seseorang juga untuk menghilangkan penghalang-penghalang yang menghalangi datang nya rahmat seperti durhaka kepada orang tua dan dendam kepada orang lain dan memutus silaturrahmi, maka siapa yang ada padanya sifat-sifat ini akan berlalu malam-malam ramadhan dan malam lailatul qodar sedang kan dia termasuk yang di haramkan dari kebaikan-kebaikan dan barokah, pemberian yg di turunkan di bulan ramadan.
2) SELALU BERUSAHA MENJAGA QIYAM DI BULAN RAMADHAN.
Dalam hal ini arti qiyam itu sendiri kita di wasiatkan untuk selalu menjaga sholat tarawih kita dari malam pertama sampai malam terakhir di bulan ramadhan ini jangan sampai ada yang bolong, beserta menjaga untuk selalu sholat berjamaah khususnya sholat isya' dan shubuh, karena barang siapa menjaga hal itu maka dia telah mendapatkan nasibnya dari malam lailatul qodar.
3) MENYAMBUT DENGAN BERGEMBIRA AKAN PEMBERIAN DAN FADHILAH2 DARI ALLAAH SWT.
Dikarenakan arak-arakan (berisi berbagai anugerah) Allah SWT akan digelar pada bulan Ramadhan setiap malam dimulai dari terbenamnya matahari sampai terbitnya fajar, sedangkan pada selain bulan Ramadhan digelar mulai waktu sahar (sebelum terbit fajar) saja.
Tiap orang hendaknya menyambut akan berbagai anugerah-anugerah dan pemberian-pemberian Allah SWT tsb, sedangkan menyambut akan pemberian-pemberian Allah SWT tersebut dapat dilakukan dengan 3 hal:
1. Dengan selalu berusaha dan bersungguh-sungguh dalam (menggapai) ridho Allah yang Maha Tinggi dan Maha Kuasa, Allah SWT berfirman:
((Dan barangsiapa yang berjihad (berusaha dengan sungguh-sungguh) maka sesungguhnya jihadnya itu untuk dirinya sendiri)).
{Hendaknya engkau berusaha dengan sungguh-sungguh maka niscaya engkau akan melihat (hasilnya), dan ambillah kesempatan untuk mendapatkan janji (Allah SWT) berupa petunjuk, yaitu petunjuk yang telah disebutkan dalam ayat pada surat Al Ankabut}.
Rasulullah SAW bersungguh-sungguh dalam beramal pada bulan Romadhon melebihi pada selain bulan Ramadhan, beliau lebih bersegera dalam kebaikan melebihi (kecepatan) angin yang berhembus.
2. Menyambut akan pemberian Allah dapat dilakukan dengan selalu istiqomah dalam pembacaan wirid-wirid dan dzikir-dzikir yang datang dari Nabi SAW dan para salaf shaleh, terlebih-lebih dzikir ini yang dianjurkan agar selalu dibaca, (yaitu):
{ أشهد أن لا إله إلا الله نستغفر الله نسألك الجنة ونعوذ بك من النار }،
Hendaknya tiap orang itu memperbanyak dzikir tersebut, karena Rasulullah SAW bersabda: ((Hendaknya kalian memperbanyak empat hal dalam bulan (Romadhon) ini..)), bukan cuma dibaca sebelum Maghrib saja, namun dibaca 50 kali atau 100 kali atau lebih pada hari-hari bulan Romadhon. Dibaca baik ketika berjalan maupun ketika duduk maupun ketika berkendara..
Kaum perempuan juga membacanya sambil memasak maupun sambil menyapu maupun sambil menyusui anaknya..
Sedangkan kaum lelaki membacanya baik ketika beraktivitas maupun ketika bekerja..
Jadi hendaknya seseorang itu selalu istiqomah dalam membaca dzikir-dzikir yang ma'tsur (datang dari Nabi SAW atau pasa salaf shaleh) dan menghadiri majlis-majlis, terlebih-lebih majlis ilmu, karena telah diriwayatkan:
((Barangsiapa yang menghadiri majlis ilmu pada bulan Ramadhan, maka Allah akan menuliskan pahala setahun baginya pada setiap langkahnya)).
Oleh karena itu, para salaf shaleh mengadakan acara-acara Rouhah pada waktu Ashar bulan Romadhon, Al Habib Muhammad bin Ahmad bin Ahmad Al Muhdhor berkata:
"Meninggalkan Rouhah adalah merupakan dahaga yang sangat"
Maka seseorang itu hendaknya berlomba-lomba dan bersegera, Allah SWT berfirman:
((Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba)) dan ((Untuk semisal inilah hendaknya beramallah orang-orang yang mampu beramal)).
3. Begitu juga menyambut akan pemberian-pemberian Allah SWT dapat dilakukan dengan selalu berusaha untuk menghilangkan segala penghalang yang dapat menghalangi didapatkannya dan diturunkannya rahmat, ini adalah hal yang paling penting dan paling besar ketimbang apa-apa yang telah disebutkan sebelumnya, (penghalang-penghalang tersebut yaitu) menjauhi 3 hal: durhaka (terhadap orang tua), memutuskan tali silaturrahim, membenci (saudara semuslim) dan yang lainnya..
Sehingga (apabila hal ini telah dilaksanakan) maka Romadhon akan berlalu sedangkan dia dalam keadaan yang terbaik..
Al Imam Asy Sya'roni RA berkata:
"Dahulu ketika bulan Romadhon telah lewat, maka mereka menjadi ahli kasyaf dikarenakan mereka mendapatkan sirr (rahasia Ilahi), nur (cahaya Ilahi) dan keberkahan.
Sedangkan Ummat kita, bulan Romadhon keluar masuk namun kita tidak bertambah sesuatupun dan inilah paling besarnya musibah..
Ini adalah 3 hal yang aku wasiatkan kepada kalian agar selalu dilaksanakan, tidak usah banyak2 tapi benar2 kalian jaga (yaitu) sekali lagi: Melaksanakan puasa, Qiyam Romadhon dan menyambut berbagai pemberian-pemberian Allah SWT..
Semoga Allah SWT menjadikan bulan ini sebagai saksi kebaikan kita bukan saksi keburukan kita, serta menjadikan kita termasuk dari orang-orang yang dibebaskan dan diselamatkan dari api neraka, dan semoga Allah SWT memberi kekuatan kepada kita dalam melaksanakan puasa dan qiyam Romadhon dalam keadaan yang sempurna dan hati yang tenang. Aamiin Allahumma Aamiin..

Selasa, 16 Februari 2016

Pandangan Al-'Allaamah Alhabib Umar bin Hafizh tentang Kitab Ihya 'Ulumuddin & Imam Ghazali
Dalam sebuah wawancara antara seorang penanya dengan Alhabib Umar bin Hafizh mengenai pandangan Habib Umar atas kitab Ihya 'Ulumuddin, berikut wawancaranya:
Penanya: "Apa kitab terbaik dalam tasawwuf menurut anda?"
Habib Umar: "Ihya 'Ulumuddin".
Penanya: "Banyak orang terpelajar yg berpendapat bahwa orang2 seharusnya tidak membaca kitab tersebut, apakah benar?"
Habib Umar: "Tidak! Ihya jelas2 adalah Syariah. Imam Ghazali telah melampaui semua hal, tidak ada kitab lain semisal ini. Hal ini ditunjukkan melalui mimpi atau visi yang Syaikh Abu Hasan asy-Syadzili lihat ketika ia memasuki kota Yerusalem.
ia (Syaikh Abu Hasan) melihat Nabi Muhammad SAW di singgasananya atau di atas semacam kursi yg terangkat/terbang, dan disekitarnya adalah para Nabi.
ia (Syaikh Abu Hasan) mendengar Nabi Musa AS berkata kepada Rasulullah SAW: "Anda mengatakan bhw ulama-ulama dari bangsa anda adalah seperti Nabi-Nabi dari Bani Israil?"
lalu Rasulullah SAW menjawab: "Iya, anda mau saya perlihatkan salah satunya?".
Lalu Rasulullah SAW berbalik dan berkata: "Dimanakah Abu Hamid al-Ghazali?"
Kemudian Imam Ghazali masuk dan duduk bersama mereka. Mereka (para Nabi) bertanya: "Siapakah nama anda, wahai Imam?"
Alhabib Umar kembali mengingatkan kepada si penanya bahwa ini adalah mimpi/visi yang dialami oleh Syaikh Abu Hasan asy-Syadzili.
Imam Ghazali menjawab: "Nama saya Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Tusi"
Nabi Musa AS berkata kepadanya: "Kami hanya menanyakan nama kamu saja, kami tidak ingin tahu nama ayahmu, kakekmu atau sukumu. Apakah ini yang dinamakan adab?"
Lalu Imam Ghazali beralih ke Rasulullah SAW, kemudian bertanya: "Duhai utusan Allah, haruskah saya diam di hadapan Nabi Musa 'Kalimullah' ataukah saya harus menjawabnya?"
Rasulullah SAW berkata: "Silahkan, jawablah"
Kemudian Imam Ghazali berkata: "Duhai Nabiyullah Musa AS, ketika Tuhanmu bertanya kepadamu (QS.Thaha 17-18): "Apa itu yang ada di tangan kananmu?", Engkau menjawab: "ini adalah tongkatku, aku bersandar di atasnya, aku menggembalakan dombaku dengannya, dan hal-hal lain yang berguna untukku".
Engkau duhai Nabiyullah Musa tidak ditanyakan semua itu, yang ditanya hanyalah apakah itu yang ada di tanganmu"
Sehingga Nabi Musa AS terkejut dan berkata: "Sungguh benar ucapanmu yaa Rasulallaah SAW, para ulama dari bangsamu menyerupai Nabi di antara kita".
Sesaat kemudian si penanya bertanya kembali kepada Habib Umar: "Dimanakah dapat saya cari kisah yang anda utarakan tadi? apakah ada di kitab-kitab?".
Jawab Habib Umar: "Ya, kau dapat menemukannya di kitab-kitab sejarah dan di baris puisi yang disebutkan oleh Imam al-Haddad mengenai visi Syaikh Abu Hasan asy-Syadzili tadi". Sebagaimana Imam Nawawi berkata bahwa kitab ini (Ihya 'Ulumuddin) bagaikan al-Qur'an. Di dalam visi Syaikh Abu Hasan asy-Syadzili tadi, Rasulullah SAW berkata kepada Nabi Musa AS & Nabi Isa AS: "Apakah ada di antara ulama atau rabbi pada bangsamu yang seperti al-Ghazali?", Nabi Musa AS & Nabi Isa AS menjawab: "Tidak ada".

WaLLAAHU A'lam bishshawaab

Sumber tayangan video:

Kamis, 17 Desember 2015

Kisah Suami-Isteri Yahudi yang Bermimpi Nabi Muhammad SAW

Syeikh Abdul Wahid bin Ismail bercerita, bahwa di Mesir dahulu, ada seorang laki-laki yang setiap tahun mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. Di sebelah laki-laki tadi, ada tetangganya yang beragama Yahudi, isteri Yahudi ini berkata kepada suaminya: "Mengapa tetangga kita yang muslim itu, setiap bulan ini (Rabi'ul Awwal) membelanjakan harta yang banyak?"
Suami Yahudi itu menjawab, "Itu adalah karena dia beranggapan bahwa dalam bulan inilah Nabinya dilahirkan, dia melakukan hal tersebut karena senang dengan Nabinya dan memuliakan hari
kelahirannya. Syeikh Abdul Wahid bin Ismail melanjutkan ceritanya: setelah berbincang, kedua suami isteri itu pun diam, kemudian keduanya tidur.

Dalam tidurnya, isteri Yahudi itu bermimpi ia melihat ada seorang laki-laki yang begitu tampan dan agung, berwibawa dan sangat dimuliakan memasuki rumah tetangganya yang Muslim itu. Dan di kanan kiri laki-laki tersebut ada serombongan dari sahabatnya. Mereka menghormati dan mengagungkan laki-laki tersebut. Wanita itu pun bertanya kepada pada salah seorang diantara anggota rombongan itu, "Siapa laki-laki yang tampan ini?" Orang itu menjelaskan bahwa itulah Rasulullah Saw. Beliau masuk ke rumah ini untuk mengucapkan salam kepada penghuni rumah ini dan menemui mereka yang telah menunjukkan rasa suka-cita mereka atas kelahiran beliau. Wanita Yahudi itu pun berkata lagi, "Maukah orang itu berbicara denganku apabila aku mengajaknya bicara?" Laki-laki tadi menjawab, "Sudah tentu beliau mau." Wanita Yahudi itu pun lantas mendekati Nabi Muhammad Saw dan menyapanya, "Wahai Muhammad!" lantas Nabi pun
menjawab,"LABBAIKI (aku sambut panggilanmu). "Wanita itu pun berkata, " Engkau menjawab orang sepertiku dengan TALBIYAH, sedangkan aku bukan mengikuti agamamu dan aku pun termasuk salah satu musuh-musuhmu. "Nabi pun bersabda kepadanya, "Demi Dzat yang telah mengutusku dengan haq menjadi Nabi, aku tidak menjawab panggilanmu sehingga aku mengerti bahwasanya Allah telah memberi hidayah atasmu. "Wanita itupun berucap, "Sesungguhnya Tuan memang benar seorang Nabi yang mulia yang berpribadi agung, celakalah orang yang menyelisihi perintahmu dan merugilah orang yang tidak mengerti pangkatmu. Ulurkanlah tanganmu, Aku bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Engkau adalah Rasulullah Saw. "Dalam hatinya, wanita itu berjanji kepada Allah, berniat bahwa nanti besok pagi, ia akan bersedekah dengan seluruh harta yang ia miliki dan melaksanakan jamuan untuk memperingati Maulid Nabi
Shallallaahu Alaihi Wasallam, sekaligus sebagai perwujudan rasa syukur atas ke-Islamannya dan mimpinya malam itu.

Akan tetapi, diluar dugaan, begitu bangun pagi ia melihat suaminya sudah sibuk untuk menyiapkan suatu perjamuan, ia begitu rajin dan serius. Wanita itu pun heran dengan apa yang dilakukan
suaminya seraya berkata, "Ada apa gerangan kulihat engkau begitu sibuk dan bersemangat pagi ini?" si suami menjawab, "Karena orang yang kau lihat malam tadi, yang mana engkau masuk
Islam di hadapan beliau." Dia bertanya kepada suaminya, "Siapa gerangan yang telah membukakan engkau rahasia ini (ihwal impiannya) dan memperlihatkannya kepada engkau?" Si suami
pun berkata, "Yaitu Nabi Muhammad yang mana aku masuk Islam setelah engkau di hadapan beliau Saw. Beliaulah Nabi yang diterima syafaatnya kelak untuk orang yang bershalawat dan salam atas beliau."


Sumber: Kitab Maulid Syeikh Ahmad bin Al Qasim (terkenal dengan nama Maulid Syaraful Anam), yang disyarahi oleh Syeikh Nawawi Al-Jawi dengan nama: Fat-hush Shamad al Alim 'alaa Maulidisysaikh Ahmad bin al Qasim (halaman 44-46).

Selasa, 15 Desember 2015

KISAH SHAHABAT NABI SAW YANG MENGAJAK ORANG SEKAMPUNG UNTUK MEMELUK ISLAM

Ada seorang sahabat Nabi Muhammad saw, Namanya Thufail ibni Amak’, dia dari suatu kampung yg sangat jauh, perbatasan Yaman dengan Mekkah, dia ingin melihat Nabi Muhammad saw, ketika bertemu nabi Muhammad saw dia sungguh kagum kepada Nabi Muhammad saw. ketika bertemu Nabi Muhammad saw dia ceritakan pada Nabi Muhammad saw, “Ya Rasulullah aku berasal dari tempat yg sangat jauh, tidak kuat aku jalan siang hari karena panas”

Lalu Rasulullah saw berkata ” lalu apa maumu wahai Thufail?”, dia bilang “Ya Rasulullah ini tongkatku, tolong pegang tongkat ku ini. kalau sudah malam keluar cahaya agar aku bisa berjalan”
“baiklah” kata Rasulullah saw, dipegang tongkat itu oleh Nabi Muhammad saw, maka pulanglah Thufail ini menggunakan ontanya.

Di perjalanan ketika sampai waktu maghrib tongkatnya mengeluarkan cahaya terang benderang hingga terlihat jalanan yg dia lalui.. sampai subuh hilang cahayanya begitu seterusnya sampai ia tiba di kampungnya ia tancap tongkatnya di depan rumahnya, orang tanya sama dia,
“Dari mana wahai Thufail?”
“aku dari makkah”
“bagaimana? kau bertemu dgn orang yg kau bilang Nabi Akhir zaman?”
“bertemu”
“kau dikasih makan?”
“dikasih makan”
“kau dihormati?”
“sangat dihormati”
orangnya hitam atau putih? ”
“putih”
“pernah kau melihat wajah seperti dia”
“belum pernah”
“bahkan suaranya belum pernah aku mendengar suara sebagus itu, aku juga belum pernah mencium keharuman seharum orang itu”

Lalu setelah Thufail bertemu dgn istri dan anak nya kemudian ia tidur, datang maghrib keluar cahaya terang benderang dari tongkat yang dia tancap di depan rumahnya tadi, datang orang sekampung berkumpul di depan rumahnya Thufail,
“Thufail dari mana cahaya ini? apakah kau sihir?”
“tidak, aku meminta dengan hormat kepada Rasulullah Nabi Muhammad bin Abdullah agar aku diberikan cahaya supaya aku bisa kembali ke kampung halaman karena aku berjalan di malam hari”
“Thufail kalau begitu mari kita bersama-sama kesana bertemu Nabi Muhammad saw”

Akhirnya satu kampung ke Makkah, “Ya Rasulullah aku membawa satu kampung mereka mau masuk islam ingin melihat wajahmu”
Lalu Nabi Muhammad saw keluar menemui mereka, semua yang ada disitu menyatakan,
“Benar Thufail benar, tidak pernah aku melihat wajah manusia seindah ini, tidak pernah kami mencium manusia yang seharum ini, kami yang tidak mandi berhari hari, bau badan kami hilang

karena harumnya badan Nabi Muhammad saw menempel di baju kami,
Asyhadu an laa ilaahailallah wa Asyhadu anna Muhammaddar rasulullah”. ALLAAH KARIIM....

ALLAAHUMMA SHALLI 'ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD WA 'ALAA AALIHI WA SHOHBIHI AJMA'IIN...

Senin, 14 Desember 2015

LIDAH SYAIKH FARAZDAQ DIPOTONG KARENA MEMUJI RASULULLAH SAW

{Petikan Ceramah Sulthonul Qulub Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa & disampaikan pula oleh Alhabib Alwy bin Abdurrahman Alhabsyi}

Dahulu di masa seorang penyair hebat dan sangat terkenal yaitu Syaikh Farazdaq dimana beliau selalu asyik memuji Rasulullah Saw., beliau mempunyai kebiasaan melakukan ibadah haji setiap tahunnya.
Suatu waktu ketika beliau melakukan ibadah haji kemudian datang berziarah ke makam Rasulullah Saw. dan membaca qasidah di makam beliau Saw. dan ketika itu ada seseorang yang mendengarkan qasidah pujian yang dilantunkannya.
Setelah selesai membaca qasidah, orang itu menemui Syaikh Farazdaq dan mengajak beliau untuk makan siang ke rumahnya. Beliau pun menerima ajakan orang tersebut dan setelah berjalan jauh hingga keluar dari Madinah al-Munawwarah sampailah keduanya di rumah yang dituju.

Sesampainya di dalam rumah, orang tersebut memegangi Syaikh Farazdaq dan berkata: "Sungguh aku sangat membenci orang-orang yang memuji-muji Muhammad, dan kubawa engkau ke sini untuk kugunting lidahmu!"
Maka orang itu menarik lidah beliau lalu mengguntingnya dan berkata: "Ambillah potongan lidahmu ini dan pergilah untuk kembali memuji Muhammad!"
Maka Syaikh Farazdaq pun menangis karena rasa sakit dan juga sedih tidak bisa lagi membaca syair untuk Sayyidina Muhammad Saw. Kemudian beliau datang ke makam Rasulullah Saw. seraya berdoa: "Ya Allah jika penghuni makam ini tidak suka atas pujian-pujian yang aku lantunkan untuknya maka biarkan aku tidak lagi bisa berbicara seumur hidupku, karena aku tidak butuh kepada lidah ini kecuali hanya untuk memuji-Mu dan memuji Nabi-Mu. Namun jika Engkau dan Nabi-Mu ridho, maka kembalikanlah lidahku ini ke mulutku seperti semula.

Beliau terus menangis hingga tertidur dan bermimpi jumpa dengan Rasulullah Saw. yang berkata: "Aku senang mendengar pujian-pujianmu, berikanlah potongan lidahmu."
Lalu Rasulullah Saw. mengambil potongan lidah itu dan mengembalikannya pada posisinya semula. Ketika Syaikh Farazdaq terbangun dari tidurnya beliau mendapati lidahnya telah kembali seperti semula, maka beliaupun bertambah dahsyat memuji Rasulullah Saw.

Singkat cerita hingga di tahun selanjutnya beliau datang lagi menziarahi Rasulullah Saw. dan kembali membaca pujian-pujian untuk Rasulullah Saw. Dan di saat itu datanglah seorang yang masih
muda dan gagah serta berwajah cerah menemui beliau dan mengajak beliau untuk makan siang di rumahnya.
Beliau teringat kejadian tahun yang lalu namun beliau tetap menerima ajakan tersebut sehingga beliau dibawa ke rumah anak muda itu. Sesampainya di rumah anak muda itu, beliau dapati rumah itu adalah rumah yang dulu pernah beliau datangi di tempat lidah beliau dipotong.

Anak muda itu pun meminta beliau untuk masuk yang akhirnya beliau pun masuk ke dalam rumah itu hingga mendapati sebuah kurungan besar terbuat dari besi dan di dalamnya ada kera yang

sangat besar dan terlihat sangat beringas, maka anak muda itu berkata: "Engkau lihat kera besar yang di dalam kandang itu, dia adalah ayahku yang dulu telah menggunting lidahmu, maka keesokan harinya Allah merubahnya menjadi seekor kera."


Dan hal yang seperti ini telah terjadi pada ummat terdahulu, sebagaimana firman Allah Swt.:
"Maka setelah mereka bersikap sombong terhadap segala apa yang dilarang, Kami katakan kepada mereka: Jadilah kalian kera yang hina". (QS. al-A'raf ayat 166)
Kemudian anak muda itu berkata: "Jika ayahku tidak bisa sembuh maka lebih baik Allah matikan saja."
Maka Syaikh Farazdaq berdoa: "Ya Allah aku telah memaafkan orang itu dan tidak ada lagi dendam dan rasa benci kepadanya."
Dan seketika itu pun Allah Swt. mematikan kera itu dan mengembalikannya pada wujud yang semula.

Dari kejadian ini jelaslah bahwa sungguh Allah Swt. mencintai orang-orang yang suka memuji Nabi Muhammad Saw. Karena pujian kepada Nabi Muhammad Saw. disebabkan oleh cinta dan

banyak memuji kepada Nabi Muhammad Saw. berarti pula banyak mencintai beliau Saw.
Dan semakin banyak orang yang berdzikir, bershalawat dan memuji Nabi Muhammad Saw., maka Allah akan semakin menjauhkan kita, wilayah kita dan wilayah-wilayah sekitar dari musibah dan digantikan dengan curahan rahmat dan anugerah dari Allah Swt.

TAUSHIYAH SULTHANUL 'ILM: ALHABIB SALIM BIN ABDULLAH BIN UMAR ASSYATHIRI (RUBATH TAREEM):

1. Rumah yang dibacakan sholawat/
maulid sungguh dicintai Allah
daripada rumah yang sepi.
Begitupula rumah yang didatangi
orang- orang sholeh. Bacakanlah
sholawat/maulid dirumahmu agar
dijauhkan dari musuh-musuh Allah.

2. Sesungguhunya pujian-pujian
kepada nabi sudah ada sejak
berabad-abad yang lalu. Dikatakan
bahwa ada 3 orang yang membuat
pujian dengan sebenar-benarnya
pujian kepada nabi:
- Imam Assyaikh Al Bur'i, beliau
dianugerahi usia 130 tahun dan 99
kali berhaji dan karena sakit yang
disebabkan rindu kepada
Rasulullah, beliau wafat disana.
- Syaikh Yusuf bin Isma'il
Annabhani, hampir semua kitab
beliau tentang pujian kepada Nabi.
Salah seorang habaib pernah
bertemu Nabi dan Nabi bersabda
bahwa Syaikh Yusuf adalah bagian
dari sahabat kami.
- Al Imam Al Habib Ali Al Habsyi,
beliau memuji dengan ribuan
qosidah baik fushah/amiyah.
Diceritakan oleh pelayan penjaga
Qubah Rasulullah bahwa setiap hari
Rasulullah selalu bersama Habib Ali
di Qubah Rasul. Habib Ali selalu
menangis ketika mendengar nama
nabi karena rasa cinta beliau
kepada Rasulullah yang amat
sangat. Begitulah keadaan para wali
yang sholeh, mereka selalu
berkaitan
dengan Nabi SAW.

3. Pada zaman ini banyak orang-
orang yang lebih cinta kepada
artis2/ penyanyi/penari dari pada
kepada nabi, begitupula dengan
para pemain sepak bola. Seakan
hanya sepak bola yang ada dalam
hidupnya. Begitu juga dengan
orang2 yang selalu sibuk dengan
dunia berita politik dan mereka
selalu mementingkan politik dari
urusan agamanya. Padahal manusia
akan dibangkitkan dengan siapa
yang dicintainya. Maka penuhilah
hatimu dengan nabi, lazimkan
bacaan sholawat sebagai dzikirmu.

4. Jika kalian cinta nabi maka
perhatikan hal2 berikut:
"Jagalah sholat kalian dengan
berjamaah, jangan tinggalkan sholat
jumat, perbaikilah dirimu, sambung
silaturrahim, taatlah kepada orang
tua, hormati yang lebih tua. Jagalah
dirimu dan keluargamu dr api
neraka. Jauhilah zina baik langsung
maupun tidak langsung seperti
menonton film porno, sodomi,
maupun maksiat dengan tangan
(onani). Inilah bukti cinta kalian
kepada Nabi.

5. Sholawat berikut selalu dibaca
oleh Al Imam Assya'rani 1000X
setiap harinya: "Allahumma sholli
wasallim 'ala sayyidina
Muhammadin wa 'ala alihi an
nakuuna mahbuubina laka wa
mahbuubina lahu".

6. Janganlah engkau seperti ayam,
ia berkokok ditempat yang suci
maupun tempat yg najis. Kadang-
kadang kamu berlumuran dosa dan
kadang anda menjadi orang yg suci/
baik. Maka jadilah engkau manusia
sempurna selalu menjadi orang yg
suci.

Selasa, 08 Desember 2015

Kisah Anak Kecil yang Amat Rindu kepada Baginda Nabi Muhammad SAW



Si Kecil yg Cinta kpd Baginda Saw

Terjadi satu kisah di zaman Syeikh Abdurrahman Ad-Diba'i. Ketika sedang berkumpul dengan orang di kota Zabid (ujung kota Yaman) untuk berziarah ke makam Sayyidina Muhammad SAW di kota Madinah.

Jarak perjalanannya membutuhkan waktu selama 2 minggu. Ketika rombongan tadi hendak bergerak ke kota Madinah datang seorang anak kecil sekitar 8 tahun, wahai syeikh aku hendak ikut ziarah ke makam Nabi SAW.

Tapi permintaan anak kecil itu tidak diizinkan oleh syeikh, karena kau nanti membuat susah, orang hendak ke sini kau hendak kesana. Lalu syeikh bertanya kepada anak kecil itu, kenapa kau sangat ingin ikut. Lalu anak itu berkata wahai syeikh percayalah "Aku sangat rindu dengan Rasulullah". Namun dijawabnya, ''Sudahlah kau tetap tak boleh ikut.''

Maka berjalanlah rombongan tadi. Setibanya di kota Madinah tepatnya dimakamnya Sayyidina Muhammad SAW, terkejutlah Syeikh Abdurrahman Ad-Diba'i karena melihat anak kecil itu ada dihadapannya.

''Wahai anak kecil, dari mana kau datang. Bagaimana kau bisa ikut.''

''Ketika kalian berangkat, aku masuk dalam kotak/peti ikut bersama rombongan ziarah ke makam Sayyidina Muhammad SAW.''

''Kata Syeikh aku tidak heran kalau kau masuk peti, tapi selama 2 minggu kau makan dan minum dari mana, tidak makan dan tidak minum.''

''Wahai syeikh sungguh aku dilupakan dari makan dan minum karena sangat rindu kepada Nabi SAW''.

Anak kecil tadi pun bertanya; ''Wahai syeikh apakah benar tanah ini pernah di pijak Rasulullah?''

Kata syeikh ''ya'.' Kemudian anak tersebut mengambil tanah itu lalu diciumnya tanah tersebut, terus anak kecil itu tiba-tiba roboh seakan-akan pingsan.

Rupanya anak kecil itu telah wafat. Anak kecil itu di kebumikan di luar kota Madinah karena orang luar. Kemudian kesemuanya terus mengerjakan umrah.

Saat pulang, syeikh teringat kepada anak tadi, lalu datang menziarahi makam anak itu. Ketika syeikh melihat keadaan makam itu, menjadi bingung. Karena kubur itu diluar kota Madinah tapi berangsur-angsur bergeser masuk kota Madinah mendekati makam Sayyidina Muhammad Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam. Maka menangislah Syeikh Abdurrahman Ad-Diba'i. Sampai sekarang makam tersebut masih ada dan makam tersebut ada di seberang Masjid Nabawi.

''Wahai anak kecil betapa hebat dan mulianya engkau, sewaktu kecil kau rindu hendak ziarah ke makam Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW, dan sewaktu kau wafat kau juga rindu kepada Rasulullah...''

Syeikh Abdurrahman Ad-Diba'i pun menangis di dalam rumahnya “Aku ini adalah seorang imam tapi aku malu melihat kecintaan seorang anak yang sangat mencintai Rasulullah SAW. Dan sang Imam pun menulis riwayat perjalanan anak kecil tersebut di Maulidnya.

Hebatnya cinta anak kecil kepada Habibana Sayyidina Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam.

Referensi:
Diambil dari beberapa sumber
Dikisahkan pula oleh: Habib Ali Zainal Abidin Al Kaff